BlogBelajar Menulis Systematic Literature Review (SLR)Merumuskan Pertanyaan Review dan Menyusun Protokol SLR: PICO, PICOC, dan SPIDER
Belajar Menulis Systematic Literature Review (SLR) — Part 2

Merumuskan Pertanyaan Review dan Menyusun Protokol SLR: PICO, PICOC, dan SPIDER

Cara merumuskan pertanyaan review SLR dengan PICO, PICOC, dan SPIDER, menetapkan kriteria inklusi, dan menyusun protokol, lengkap contoh kasus.

Rizky Rinaldi

Pendahuluan

Dua mahasiswa sama-sama memulai SLR.

Mahasiswa A menulis pertanyaan review: “Bagaimana pengaruh teknologi terhadap pendidikan?” Ketika mencobanya di mesin pencari, hasilnya ratusan ribu artikel dengan topik yang sangat beragam. Ia menyaring sebisanya, dan setelah melihat artikel apa yang ada, ia mengubah kriteria pilihannya supaya lebih “pas”.

Mahasiswa B menulis pertanyaan yang lebih sempit: siapa subjeknya, apa perlakuannya, apa luarannya, di mana, dan pada periode kapan. Sebelum mencari, ia menuliskan kriteria inklusi dan eksklusi, lalu menyimpannya dalam dokumen bertanggal yang diperiksa pembimbing.

Sekilas keduanya sama-sama “mereview”. Namun hanya mahasiswa B yang menghasilkan SLR. Pertanyaan yang tajam dan protokol yang dikunci sebelum pencarian adalah pembeda utama antara review yang sistematis dan yang sekadar rapi.

Artikel ini adalah Part 2 dari seri Belajar Menulis Systematic Literature Review (SLR). Kita membahas dua hal yang menentukan seluruh proses setelahnya: merumuskan pertanyaan review dan menyusun protokol. Jika Anda belum membaca fondasinya, mulailah dari Part 1: Apa Itu SLR.

Catatan penting. Contoh pertanyaan, rentang tahun, dan kriteria pada artikel ini bersifat ilustrasi. Informasi tentang pedoman dan layanan dicek pada 29 September 2026 dan dapat berubah. Ketentuan kampus tentang bentuk protokol, pedoman yang dipakai, dan batasan ruang lingkup selalu menjadi acuan utama.

Setelah membaca artikel ini, Anda diharapkan mampu:

  • menjelaskan mengapa pertanyaan review menentukan seluruh langkah SLR;
  • mengubah topik luas menjadi pertanyaan review yang terfokus;
  • memilih dan memakai kerangka PICO, PICOS, PICOC, PICo/PCC, atau SPIDER;
  • menakar cakupan pertanyaan agar tidak terlalu luas atau terlalu sempit;
  • menetapkan kriteria inklusi dan eksklusi yang dapat diterapkan secara konsisten;
  • menyusun protokol dan mengelola perubahannya secara transparan.

1. Mengapa Pertanyaan Review Menentukan Segalanya

Dalam penelitian lapangan, rumusan masalah mengarahkan pengumpulan data. Dalam SLR, pertanyaan review mengarahkan seluruh proses, dari kata kunci pencarian sampai bentuk sintesis. Jika pertanyaannya kabur, setiap langkah setelahnya ikut kabur.

Langkah SLR Diturunkan dari pertanyaan review
Kriteria inklusi dan eksklusi Populasi, intervensi atau fenomena, luaran, konteks, dan desain studi yang relevan
Kata kunci dan search string Konsep-konsep utama pada pertanyaan (Part 3)
Seleksi studi Penerapan kriteria pada judul, abstrak, dan teks lengkap
Ekstraksi data Informasi yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan
Sintesis Cara menggabungkan hasil agar pertanyaan terjawab
Kesimpulan Jawaban atas pertanyaan, bukan ringkasan sembarang temuan

Bab tentang menentukan cakupan dan pertanyaan pada Cochrane Handbook (Higgins dkk., 2019) menekankan bahwa pertanyaan yang jelas sejak awal menjadi dasar keputusan-keputusan metodologis berikutnya. Kitchenham dan Charters (2007) juga menempatkan perumusan pertanyaan penelitian sebagai fondasi dalam perencanaan SLR.


2. Dari Topik ke Pertanyaan Review: Enam Langkah

Topik → Pencarian awal → Konsep utama → Kerangka → Pertanyaan → Uji dan revisi
Langkah Kegiatan
1. Topik Tentukan bidang dan minat, sebagaimana dibahas di artikel tentang menyusun judul
2. Pencarian awal Cari sekilas di satu atau dua sumber untuk melihat apa yang sudah ada dan berapa banyak
3. Konsep utama Pecah topik menjadi konsep: siapa, apa, luaran apa, di mana
4. Kerangka Pilih kerangka yang sesuai (bagian 4)
5. Pertanyaan Rumuskan satu pertanyaan utama dan sub-pertanyaan
6. Uji dan revisi Periksa kelayakan (bagian 5 dan 6), lalu perbaiki

Contoh: dari topik ke pertanyaan

Topik mentah: “Pembelajaran daring.”

Setelah dipecah:

  • Siapa? Siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah.
  • Apa perlakuannya? Media pembelajaran digital (video, aplikasi, permainan edukatif, e-modul).
  • Luaran? Hasil belajar Pendidikan Agama Islam.
  • Di mana? Sekolah dan madrasah di Indonesia.
  • Kapan? Penelitian tahun 2015 sampai 2025.

Pertanyaan review: “Bagaimana pengaruh penggunaan media pembelajaran digital terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa SD/MI di Indonesia berdasarkan penelitian tahun 2015–2025?”

Perhatikan bahwa pertanyaan ini memuat subjek, perlakuan, luaran, konteks, dan periode. Setiap unsurnya nanti menjadi kriteria seleksi.


3. Jenis Pertanyaan Review

Bentuk pertanyaan menentukan jenis bukti yang dicari dan cara mensintesisnya.

Jenis pertanyaan Ciri Contoh pertanyaan Jenis data yang dicari
Efektivitas atau pengaruh Menguji efek suatu perlakuan Apakah pembelajaran berbasis proyek meningkatkan hasil belajar siswa SD? Studi eksperimen dan kuasi-eksperimen
Deskriptif atau kondisi Menggambarkan tingkat atau sebaran Seberapa tinggi tingkat literasi digital guru PAI di Indonesia? Studi survei
Hubungan Mencari asosiasi antarvariabel Bagaimana hubungan penggunaan gawai dan hasil belajar? Studi korelasional
Pengalaman dan persepsi Memahami makna dari sudut pandang partisipan Bagaimana pengalaman guru PAI menerapkan pembelajaran digital? Studi kualitatif
Metode, alat, atau teknologi Membandingkan pendekatan Metode pengembangan apa yang dipakai pada sistem informasi akademik? Studi pengembangan dan evaluasi sistem
Pemetaan Menggambarkan sebaran topik dan tren Bagaimana tren penelitian media pembelajaran digital pada PAI dari tahun ke tahun? Semua jenis studi yang relevan

Jenis pertanyaan ini berkaitan erat dengan jenis penelitian yang dibahas pada Part 2 seri Metodologi, tetapi di sini yang Anda “teliti” adalah studi-studi yang sudah ada.


4. Kerangka Perumusan Pertanyaan

Kerangka membantu Anda memastikan tidak ada unsur penting yang terlewat. Kerangka hanyalah alat berpikir, bukan aturan kaku, dan tidak semua huruf harus terisi.

Kerangka Kepanjangan Cocok untuk Sumber
PICO Population, Intervention, Comparison, Outcome Pertanyaan efektivitas intervensi Richardson, Wilson, Nishikawa, dan Hayward (1995)
PICOS PICO ditambah Study design Menyaring berdasarkan desain studi Liberati dkk. (2009)
PICOC PICO ditambah Context Efektivitas dengan konteks khusus; ilmu sosial dan informatika Petticrew dan Roberts (2006); Kitchenham dan Charters (2007)
PICo / PCC Population, phenomenon of Interest, Context / Population, Concept, Context Pertanyaan kualitatif dan scoping review Peters dkk. (2020)
SPIDER Sample, Phenomenon of Interest, Design, Evaluation, Research type Sintesis bukti kualitatif dan metode campuran Cooke, Smith, dan Booth (2012)

Cooke, Smith, dan Booth (2012) mengembangkan SPIDER karena PICO dianggap kurang cocok untuk penelitian kualitatif. Menurut kajian pengembangnya, pencarian berbasis SPIDER cenderung lebih spesifik tetapi dapat melewatkan studi yang relevan dibandingkan PICO. Karena itu, pilihan kerangka perlu dipertimbangkan bersama strategi pencarian.

4.1 Contoh PICOC: pertanyaan efektivitas

Pertanyaan: Bagaimana pengaruh media pembelajaran digital terhadap hasil belajar PAI pada siswa SD/MI di Indonesia (2015–2025)?

Unsur Isi pada contoh Menjadi kriteria
P (Population) Siswa SD/MI Subjek studi harus siswa SD atau MI
I (Intervention) Media pembelajaran digital (video, aplikasi, permainan edukatif, e-modul) Perlakuan berupa media digital
C (Comparison) Pembelajaran konvensional atau tanpa media digital Ada pembanding atau kondisi sebelum perlakuan
O (Outcome) Hasil belajar PAI (skor tes, keterampilan praktik) Melaporkan hasil belajar terukur
C (Context) Sekolah dan madrasah di Indonesia Lokasi penelitian di Indonesia

4.2 Contoh SPIDER: pertanyaan kualitatif

Pertanyaan: Bagaimana pengalaman guru PAI dalam menerapkan pembelajaran digital di sekolah dasar?

Unsur Isi pada contoh
S (Sample) Guru PAI SD/MI
PI (Phenomenon of Interest) Penerapan pembelajaran digital
D (Design) Wawancara, diskusi kelompok terfokus, studi kasus
E (Evaluation) Pengalaman, persepsi, hambatan, dan pendukung
R (Research type) Penelitian kualitatif atau metode campuran

4.3 Contoh PCC: scoping review

Pertanyaan: Apa saja yang telah diteliti tentang literasi digital guru di Indonesia?

P: guru. C (Concept): literasi digital. C (Context): Indonesia.

4.4 Contoh untuk informatika

Pertanyaan pemetaan: Metode pengembangan sistem apa yang dipakai pada penelitian sistem informasi akademik di Indonesia pada 2018–2025?

Unsur Isi pada contoh
Populasi Sistem informasi akademik di perguruan tinggi dan sekolah
Intervensi Metode pengembangan sistem (Waterfall, Prototyping, dan lain-lain)
Pembanding Antarmetode (bila ada)
Luaran Metode, platform, dan cara pengujian yang dilaporkan
Konteks Penelitian di Indonesia, 2018–2025

Untuk studi pemetaan, pertanyaan biasanya berbentuk beberapa RQ deskriptif (metode apa, platform apa, pengujian apa, tren per tahun), dan skema klasifikasinya dapat dibangun dari kata kunci pada abstrak (Petersen, Feldt, Mujtaba, & Mattsson, 2008).


5. Menakar Cakupan: Tidak Terlalu Luas, Tidak Terlalu Sempit

Ini keputusan paling sulit, dan umumnya membutuhkan beberapa kali revisi.

Gejala Kemungkinan masalah Tindakan
Ribuan hasil, topik beragam Pertanyaan terlalu luas Persempit salah satu unsur
Hanya beberapa hasil Pertanyaan terlalu sempit Perluas salah satu unsur
Studi sangat berbeda-beda sehingga sulit dibandingkan Populasi atau luaran terlalu heterogen Persempit atau bagi menjadi sub-pertanyaan

Tuas untuk menyesuaikan cakupan

Unsur Memperluas Mempersempit
Populasi Semua jenjang pendidikan dasar dan menengah Hanya kelas V
Intervensi Semua media digital Hanya video pembelajaran
Luaran Semua aspek hasil belajar Hanya hasil belajar kognitif
Konteks Semua negara Hanya Indonesia
Periode 2005–2025 2020–2025
Desain studi Semua desain Hanya kuasi-eksperimen

Uji cakupan dengan pencarian pilot

Sebelum mengunci pertanyaan, lakukan pencarian percobaan di satu database untuk melihat jumlah hasil dan seberapa terkelolanya. Kumpulkan juga 5 sampai 10 artikel kunci yang Anda yakin relevan. Pada tahap pencarian (Part 3), strategi Anda harus mampu menemukan artikel-artikel itu. Bila tidak, ada yang keliru pada kata kunci atau pertanyaan.

Tidak ada jumlah ideal yang berlaku universal. Yang penting, jumlah rekaman yang akan disaring dapat Anda kerjakan dengan sumber daya yang ada.


6. Menguji Kualitas Pertanyaan Review

Sebelum melangkah, ajukan delapan pertanyaan berikut.

No Pertanyaan uji Tanda bahaya jika “tidak”
1 Apakah pertanyaan dapat dijawab dari literatur yang ada? Anda butuh data lapangan, bukan review
2 Apakah subjek dan konteks jelas? Cakupan tidak terkendali
3 Apakah perlakuan atau fenomena terdefinisi? Kriteria seleksi ambigu
4 Apakah luaran dapat diidentifikasi pada studi? Ekstraksi data sulit
5 Apakah cukup studi kemungkinan tersedia? Review terlalu tipis
6 Apakah jumlah studi terkelola? Beban kerja tidak realistis
7 Apakah pertanyaan bukan sekadar ya/tidak dangkal? Sintesis miskin
8 Apakah pertanyaan bermakna untuk praktik atau keilmuan? Kurang alasan meneliti

Jejak dari pertanyaan ke sintesis

Tiap pertanyaan review harus jelas data apa yang akan diekstraksi, bagaimana disintesis, dan bagaimana disajikan. Jika tidak, pertanyaan itu belum siap.

Pertanyaan review Data yang diekstraksi Teknik sintesis Penyajian
RQ1: Bagaimana pengaruh media digital terhadap hasil belajar PAI? Desain, sampel, jenis media, ukuran hasil, skor kelompok Sintesis naratif terstruktur; meta-analisis bila memungkinkan Tabel karakteristik dan hasil
RQ2: Jenis media apa yang paling banyak diteliti? Jenis media digital pada tiap studi Penghitungan frekuensi Tabel atau diagram batang
RQ3: Aspek PAI apa yang diteliti? Materi PAI (fikih, akidah, Al-Qur’an, dan lainnya) Pengelompokan tematik Tabel silang
RQ4: Bagaimana kualitas metodologis studi? Hasil penilaian kualitas Ringkasan penilaian Tabel penilaian

7. Protokol: Rencana yang Dikunci Sebelum Mencari

7.1 Apa dan mengapa

Protokol adalah dokumen yang menjelaskan alasan, tujuan, dan metode review yang direncanakan, ditulis sebelum pencarian dan seleksi dimulai. Moher dan koleganya (2015), dalam pedoman PRISMA-P, menegaskan bahwa protokol yang jelas membantu pembaca memahami dan menilai metode review, serta membantu mendeteksi perubahan metode dan pelaporan yang selektif pada review yang sudah selesai. PRISMA-P memuat daftar periksa 17 butir yang dirancang untuk membantu penyusunan protokol yang kokoh (Moher dkk., 2015).

Alasan praktisnya sederhana: tanpa protokol, mudah sekali tergoda mengubah kriteria setelah melihat hasil, misalnya memasukkan studi yang mendukung hipotesis Anda atau membuang yang tidak. Protokol yang tertulis dan bertanggal membuat perubahan semacam itu terlihat.

7.2 Komponen protokol

Kitchenham dan Charters (2007) menguraikan komponen protokol yang secara garis besar mencakup latar belakang, pertanyaan penelitian, strategi pencarian, kriteria dan prosedur seleksi studi, penilaian kualitas, ekstraksi data, sintesis, dan jadwal. Berikut pemetaannya ke skripsi.

Komponen protokol Isi Letak dalam skripsi
Judul dan informasi umum Judul, penulis, tanggal, versi Halaman awal, lampiran
Latar belakang dan rasional Mengapa review ini diperlukan Bab I
Tujuan dan pertanyaan review Pertanyaan utama dan sub-pertanyaan, kerangka (PICOC) Bab I, Bab III
Kriteria kelayakan Kriteria inklusi dan eksklusi Bab III
Sumber informasi dan strategi pencarian Database, periode, bahasa, search string Bab III, lampiran
Prosedur seleksi Cara menyaring judul, abstrak, dan teks lengkap; siapa yang menyeleksi Bab III
Penilaian kualitas Alat yang dipakai dan cara menerapkannya Bab III
Ekstraksi data Data apa yang diambil dan dengan formulir apa Bab III, lampiran
Sintesis data Cara menggabungkan hasil Bab III
Jadwal Tahapan dan perkiraan waktu Bab III atau lampiran
Perubahan protokol Catatan amandemen Lampiran

7.3 Templat protokol yang dapat Anda isi

Bagian Isian (contoh singkat)
Judul Protokol SLR: Pengaruh Media Pembelajaran Digital terhadap Hasil Belajar PAI pada Siswa SD/MI di Indonesia
Versi dan tanggal Versi 1.0, tanggal …
Latar belakang Ringkasan masalah, alasan review, dan kesenjangan yang ingin dijawab
Pertanyaan utama Bagaimana pengaruh media pembelajaran digital terhadap hasil belajar PAI pada siswa SD/MI di Indonesia?
Sub-pertanyaan RQ2, RQ3, RQ4 (lihat tabel jejak)
Kerangka PICOC (lihat bagian 4.1)
Kriteria inklusi/eksklusi Lihat bagian 8
Sumber pencarian Ditetapkan pada Part 3 (misalnya beberapa database dan portal jurnal)
Periode dan bahasa 2015–2025; Indonesia dan Inggris
Prosedur seleksi Dua tahap: judul dan abstrak, lalu teks lengkap; pemeriksaan sampel oleh penilai kedua
Penilaian kualitas Alat yang dipilih pada Part 5
Ekstraksi data Formulir ekstraksi (Part 5)
Sintesis Naratif terstruktur; meta-analisis bila data memadai
Jadwal Tahapan dan tenggat
Deviasi Dicatat pada log perubahan

8. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

8.1 Prinsip

  • Turunkan dari kerangka (PICOC): subjek, perlakuan, luaran, konteks, dan desain.
  • Tambahkan kriteria praktis: tahun, bahasa, jenis publikasi, ketersediaan teks lengkap.
  • Tulis dapat diterapkan tanpa bertanya. Orang lain yang membaca kriteria Anda seharusnya mengambil keputusan yang sama.
  • Uji coba pada sekitar 10 sampai 20 rekaman bersama orang kedua, lalu perjelas kriteria yang membingungkan.
  • Tetapkan sebelum melihat hasil. Bila kriteria harus diubah, catat di log perubahan.

8.2 Contoh kriteria (untuk kasus media digital dan PAI)

Kode Kriteria inklusi
IC1 Studi empiris primer tentang penggunaan media pembelajaran digital pada pembelajaran PAI
IC2 Subjek penelitian siswa SD atau MI
IC3 Ada pembanding (kelompok kontrol) atau pengukuran sebelum dan sesudah perlakuan
IC4 Melaporkan hasil belajar dalam bentuk data terukur
IC5 Penelitian dilakukan di Indonesia dan diterbitkan pada 2015–2025
IC6 Ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris
IC7 Teks lengkap dapat diakses
Kode Kriteria eksklusi
EC1 Artikel konseptual, opini, atau ulasan tanpa data empiris
EC2 Subjek bukan siswa SD/MI
EC3 Media yang diteliti bukan media digital
EC4 Hanya melaporkan persepsi, tanpa hasil belajar
EC5 Duplikasi (publikasi ganda dari studi yang sama; pakai versi paling lengkap)
EC6 Teks lengkap tidak dapat diperoleh setelah upaya wajar (dicatat jumlahnya)

Catatan: pada IC3, studi dengan desain sebelum dan sesudah tanpa kelompok kontrol memiliki bukti kausal yang lebih lemah. Anda dapat memasukkannya, tetapi menandainya pada penilaian kualitas (Part 5).


9. Mengelola Perubahan pada Protokol

Protokol bukan dokumen yang tidak boleh berubah, tetapi setiap perubahan harus terlihat dan dijelaskan.

Jenis perubahan Contoh Tindakan
Klarifikasi Memperjelas definisi “media digital” karena ambigu Catat dan lanjutkan
Perubahan substansial Mengubah rentang tahun atau menambah database setelah pencarian Catat tanggal, alasan, dan dampaknya, lalu beri tahu pembimbing
Perubahan karena hasil Mengubah kriteria setelah melihat hasil yang tidak diharapkan Hindari; bila terpaksa, laporkan secara terbuka sebagai keterbatasan

Simpan log perubahan dengan kolom tanggal, perubahan, alasan, dan dampak. PRISMA 2020 meminta laporan tentang registrasi dan protokol, termasuk perubahan yang dilakukan (Page dkk., 2021). Log ini membuat pelaporan itu mudah.


10. Registrasi dan Penyimpanan Protokol

Seperti dibahas di Part 1, PROSPERO hanya menerima protokol yang memiliki luaran terkait kesehatan manusia, dan mengharuskan pendaftaran sebelum ekstraksi data dimulai (Centre for Reviews and Dissemination, n.d.). Untuk SLR pendidikan dan informatika yang tidak memiliki luaran kesehatan, jalur yang lazim adalah OSF Registries atau sekadar menyimpan protokol bertanggal.

Untuk skripsi, langkah praktisnya:

  1. Tuliskan protokol sebagai bagian proposal (Bab I sampai III).
  2. Konsultasikan dan minta persetujuan pembimbing.
  3. Simpan versi bertanggal (misalnya PDF) sebelum mulai mencari.
  4. Sertakan protokol dan log perubahannya di lampiran skripsi.
  5. Bila kampus mengizinkan atau mensyaratkan, daftarkan di registri yang sesuai.

11. Sepuluh Kesalahan yang Paling Sering Terjadi

  1. Pertanyaan terlalu luas, seperti “pengaruh teknologi terhadap pendidikan”.
  2. Pertanyaan hanya ya/tidak tanpa arah sintesis.
  3. Tidak memakai kerangka, sehingga unsur penting (luaran atau konteks) terlewat.
  4. Memakai semua huruf kerangka secara kaku padahal sebagian tidak relevan.
  5. Kriteria inklusi kabur, misalnya “artikel yang relevan”.
  6. Kriteria dibuat atau diubah setelah melihat hasil.
  7. Tidak menguji kriteria pada sampel rekaman.
  8. Tidak ada jejak dari pertanyaan ke ekstraksi dan sintesis.
  9. Tidak ada log perubahan protokol.
  10. Menganggap PROSPERO wajib untuk semua SLR, padahal tidak semua topik memenuhi syarat.

12. Latihan

Soal 1. Susun kerangka PICOC untuk topik “penggunaan aplikasi kuis interaktif pada pembelajaran di madrasah ibtidaiyah”. Lalu rumuskan satu pertanyaan review.

Soal 2. Perbaiki pertanyaan berikut: (a) “Bagaimana pendidikan digital?” (b) “Apakah gawai buruk untuk anak?”

Soal 3. Tulis tiga kriteria inklusi dan tiga kriteria eksklusi untuk pertanyaan pada Soal 1.

Jawaban.

  1. P: siswa MI. I: aplikasi kuis interaktif. C: pembelajaran tanpa aplikasi kuis interaktif. O: motivasi belajar dan hasil belajar. C (konteks): madrasah di Indonesia. Pertanyaan: “Bagaimana pengaruh penggunaan aplikasi kuis interaktif terhadap motivasi dan hasil belajar siswa madrasah ibtidaiyah di Indonesia berdasarkan penelitian tahun 2018–2025?”
  2. (a) Terlalu luas dan tidak terarah. Persempit: “Apa bukti tentang pengaruh pembelajaran berbasis aplikasi terhadap hasil belajar siswa SMP di Indonesia pada 2018–2025?” (b) Berupa penilaian ya/tidak, dengan istilah “buruk” yang tidak terukur. Perbaiki: “Bagaimana hubungan durasi penggunaan gawai dengan hasil belajar siswa sekolah dasar berdasarkan penelitian 2018–2025?”
  3. Inklusi: (i) studi empiris tentang aplikasi kuis interaktif, (ii) subjek siswa MI, (iii) melaporkan motivasi atau hasil belajar terukur. Eksklusi: (i) artikel konseptual tanpa data, (ii) subjek bukan siswa MI, (iii) aplikasi yang diteliti bukan kuis interaktif.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa jumlah pertanyaan review yang ideal? Tidak ada angka baku. Umumnya satu pertanyaan utama disertai beberapa sub-pertanyaan. Yang penting, setiap pertanyaan jelas data dan sintesisnya, dan jumlahnya tidak membuat review tak terkendali.

Apakah SLR perlu hipotesis? Tidak selalu. Review yang menilai efek terkadang menyatakan ekspektasi, tetapi review deskriptif atau pemetaan umumnya tidak memakai hipotesis. Ikuti pedoman yang dipakai dan arahan pembimbing.

Bolehkah pertanyaan review diubah setelah pencarian dimulai? Boleh bila ada alasan kuat, tetapi harus dicatat pada log perubahan, dijelaskan alasannya, dan dilaporkan secara terbuka. Menyesuaikan pertanyaan agar sesuai dengan hasil yang diinginkan adalah praktik yang harus dihindari.

Haruskah artikelnya hanya berbahasa Indonesia? Tidak harus. Keputusan bahasa adalah bagian kriteria yang perlu Anda tetapkan dan justifikasi. Membatasi bahasa dapat melewatkan studi relevan, sehingga sebutkan ini sebagai keterbatasan bila berlaku.


Rangkuman

  • Pertanyaan review menentukan kriteria, pencarian, seleksi, ekstraksi, dan sintesis. Pertanyaan yang kabur membuat seluruh proses kabur.
  • Ubah topik menjadi pertanyaan lewat pemecahan konsep, pencarian awal, kerangka, dan revisi.
  • Gunakan kerangka: PICO, PICOS, PICOC untuk efektivitas; PICo/PCC dan SPIDER untuk kualitatif dan scoping. Kerangka adalah alat berpikir, bukan aturan kaku.
  • Takar cakupan dengan pencarian pilot dan artikel kunci. Sesuaikan populasi, intervensi, luaran, konteks, periode, dan desain.
  • Pastikan ada jejak dari pertanyaan ke ekstraksi data dan sintesis.
  • Protokol dikunci sebelum mencari, memuat komponen lengkap, dan perubahannya dicatat pada log. PRISMA-P membantu menyusunnya.
  • Kriteria inklusi dan eksklusi harus eksplisit, dapat diterapkan tanpa bertanya, dan diuji pada sampel rekaman.
  • PROSPERO hanya untuk luaran kesehatan. Untuk bidang lain, OSF Registries atau protokol bertanggal di lampiran dapat menjadi pilihan.

Pertanyaan Refleksi

  1. Apakah pertanyaan review Anda memuat subjek, perlakuan atau fenomena, luaran, dan konteks dengan jelas?
  2. Apakah hasil pencarian pilot Anda terkelola, dan apakah artikel kunci Anda ditemukan?
  3. Apakah setiap kriteria inklusi dan eksklusi dapat diterapkan orang lain tanpa bertanya kepada Anda?
  4. Bila Anda harus mengubah protokol, bagaimana Anda akan mencatat dan melaporkannya?

Artikel Lanjutan

Bagian berikutnya, Part 3, membahas strategi pencarian sistematis: memilih database, menyusun kata kunci dan search string dari kerangka PICOC, serta mendokumentasikan pencarian.

Bagian sebelumnya: Part 1: Apa Itu SLR?. Untuk latar tentang rujukan dan portal jurnal, lihat Cara Mencari Jurnal Referensi untuk Skripsi.


Daftar Pustaka

Centre for Reviews and Dissemination. (n.d.). PROSPERO: Inclusion criteria. University of York. https://www.crd.york.ac.uk/prospero/AboutPROSPERO/InclusionCriteria.php

Cooke, A., Smith, D., & Booth, A. (2012). Beyond PICO: The SPIDER tool for qualitative evidence synthesis. Qualitative Health Research, 22(10), 1435–1443.

Higgins, J. P. T., Thomas, J., Chandler, J., Cumpston, M., Li, T., Page, M. J., & Welch, V. A. (Eds.). (2019). Cochrane handbook for systematic reviews of interventions (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Kitchenham, B., & Charters, S. (2007). Guidelines for performing systematic literature reviews in software engineering (Version 2.3; EBSE Technical Report EBSE-2007-01). Keele University and University of Durham.

Liberati, A., Altman, D. G., Tetzlaff, J., Mulrow, C., Gøtzsche, P. C., Ioannidis, J. P. A., … Moher, D. (2009). The PRISMA statement for reporting systematic reviews and meta-analyses of studies that evaluate health care interventions: Explanation and elaboration. PLoS Medicine, 6(7), Article e1000100.

Moher, D., Shamseer, L., Clarke, M., Ghersi, D., Liberati, A., Petticrew, M., Shekelle, P., Stewart, L. A., & PRISMA-P Group. (2015). Preferred reporting items for systematic review and meta-analysis protocols (PRISMA-P) 2015 statement. Systematic Reviews, 4, Article 1. https://doi.org/10.1186/2046-4053-4-1

Page, M. J., McKenzie, J. E., Bossuyt, P. M., Boutron, I., Hoffmann, T. C., Mulrow, C. D., … Moher, D. (2021). The PRISMA 2020 statement: An updated guideline for reporting systematic reviews. BMJ, 372, Article n71. https://doi.org/10.1136/bmj.n71

Peters, M. D. J., Marnie, C., Tricco, A. C., Pollock, D., Munn, Z., Alexander, L., McInerney, P., Godfrey, C. M., & Khalil, H. (2020). Updated methodological guidance for the conduct of scoping reviews. JBI Evidence Synthesis, 18(10), 2119–2126.

Petersen, K., Feldt, R., Mujtaba, S., & Mattsson, M. (2008). Systematic mapping studies in software engineering. Proceedings of the 12th International Conference on Evaluation and Assessment in Software Engineering, 68–77.

Petticrew, M., & Roberts, H. (2006). Systematic reviews in the social sciences: A practical guide. Blackwell.

Richardson, W. S., Wilson, M. C., Nishikawa, J., & Hayward, R. S. (1995). The well-built clinical question: A key to evidence-based decisions. ACP Journal Club, 123(3), A12–A13.

Catatan: daftar penulis pada beberapa rujukan (Liberati dkk., 2009; Page dkk., 2021) dipersingkat; lihat sumber aslinya untuk daftar lengkap. Informasi tentang PROSPERO dan PRISMA diperiksa pada 29 September 2026 dan dapat berubah.