Jenis-Jenis Penelitian dan Cara Menentukannya dari Pertanyaan Penelitian
Panduan ilmiah memilih jenis penelitian: kuantitatif, kualitatif, mixed methods, PTK, R&D, dan evaluasi program, lengkap dengan contoh kasus dan rujukan akademik.
Pendahuluan
Bayangkan percakapan berikut di ruang bimbingan. Seorang mahasiswa PGMI membawa judul skripsi “Efektivitas Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Praktik Salat Siswa Kelas V SD Negeri 21 Medan”. Dosen bertanya, “Penelitianmu kuantitatif atau kualitatif?” Mahasiswa menjawab, “Kualitatif, Pak, supaya tidak repot dengan statistik.”
Jawaban itu memperlihatkan urutan berpikir yang terbalik. Jenis penelitian dipilih karena kemudahan, padahal seharusnya ditentukan oleh apa yang ingin diketahui peneliti dan jenis bukti yang dibutuhkan untuk menjawabnya. Creswell dan Creswell (2018) menyatakan bahwa pemilihan pendekatan penelitian bertumpu pada sifat masalah penelitian, pengalaman peneliti, dan audiens hasil penelitian. Kemudahan mengolah data tidak termasuk dasar pemilihan itu.
Artikel ini membahas jenis-jenis penelitian secara sistematis, dari pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan mixed methods sampai desain khusus pendidikan seperti PTK, R&D, dan evaluasi program. Setiap jenis dilengkapi contoh kasus. Di bagian akhir, kita membahas tiga salah kaprah yang paling sering muncul dalam bimbingan skripsi, serta cara menjaga konsistensi antara judul, populasi, sampel, dan kesimpulan.
Catatan tentang contoh. Nama sekolah, jumlah siswa, dan data pada contoh di artikel ini bersifat ilustrasi untuk keperluan pembelajaran. Data tersebut bukan hasil penelitian yang sebenarnya.
Setelah membaca artikel ini, Anda diharapkan mampu:
- menjelaskan perbedaan pendekatan, desain, dan metode penelitian;
- membedakan jenis-jenis penelitian kuantitatif, kualitatif, dan mixed methods;
- mengenali karakter PTK, R&D, dan evaluasi program sebagai desain khusus pendidikan;
- menentukan jenis penelitian dari rumusan masalah, bukan dari judul yang sudah dipilih;
- menjaga konsistensi antara populasi, sampel, instrumen, analisis, dan kesimpulan.
1. Prinsip Dasar: Pertanyaan Penelitian Menentukan Desain
1.1 Urutan berpikir yang benar
Penelitian yang baik mengalir dari fenomena menuju kesimpulan secara berurutan:
Fenomena → Masalah → Pertanyaan penelitian → Tujuan
→ Pendekatan → Jenis/desain penelitian → Data
→ Populasi atau partisipan → Instrumen → Analisis → Kesimpulan
Sebagian besar kesalahan metodologis di skripsi terjadi karena urutan ini dibalik. Mahasiswa memulai dari judul yang menarik, lalu mencari metode yang terasa paling mudah, dan baru kemudian merumuskan masalah. Akibatnya, rumusan masalah, metode, dan analisis tidak saling menjawab. Cohen, Manion, dan Morrison (2018) menegaskan bahwa kesesuaian antara tujuan penelitian, desain, dan teknik pengumpulan data (fitness for purpose) merupakan pertimbangan utama dalam memilih metode penelitian pendidikan.
1.2 Tiga tingkat keputusan: pendekatan, desain, dan metode
Creswell dan Creswell (2018) memisahkan keputusan penelitian ke dalam tiga tingkat yang saling berkaitan. Pemisahan ini membantu mahasiswa yang sering mencampuradukkan istilahnya.
| Tingkat | Pertanyaan yang dijawab | Contoh |
|---|---|---|
| Pendekatan | Cara pandang umum apa yang dipakai untuk memahami masalah? | Kuantitatif, kualitatif, mixed methods |
| Desain/jenis | Rancangan apa yang dipakai untuk menjawab pertanyaan? | Deskriptif, korelasional, eksperimen, studi kasus, fenomenologi, PTK |
| Metode/teknik | Bagaimana data dikumpulkan dan dianalisis? | Angket, tes, wawancara, observasi, uji-t, regresi, analisis tematik |
Karena itu, “angket” dan “wawancara” bukanlah jenis penelitian. Keduanya adalah teknik pengumpulan data yang dapat dipakai di dalam beberapa desain.
2. Tiga Pendekatan Besar
2.1 Definisi singkat
Creswell dan Creswell (2018) mendefinisikan penelitian kuantitatif sebagai pendekatan untuk menguji teori yang objektif dengan memeriksa hubungan antarvariabel. Variabel tersebut diukur dengan instrumen sehingga datanya berbentuk angka dan dapat dianalisis secara statistik. Penelitian kualitatif adalah pendekatan untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang dilekatkan individu atau kelompok pada suatu masalah sosial atau kemanusiaan. Pendekatan mixed methods mengintegrasikan keduanya dalam satu rangkaian penelitian (Creswell & Plano Clark, 2018).
Dalam literatur metodologi di Indonesia, Sugiyono (2019) menghubungkan pendekatan kuantitatif dengan filsafat positivisme dan pendekatan kualitatif dengan filsafat postpositivisme. Peneliti kualitatif bekerja pada kondisi objek yang alamiah, dan peneliti sendiri menjadi instrumen kunci. Moleong (2017) juga menekankan bahwa penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata dan perilaku yang diamati, dan tidak berupa angka.
2.2 Perbandingan ringkas
| Aspek | Kuantitatif | Kualitatif |
|---|---|---|
| Tujuan | Mengukur, menguji hipotesis, mendeskripsikan besaran, mencari hubungan atau pengaruh | Memahami makna, proses, pengalaman, dan konteks secara mendalam |
| Kata kunci pertanyaan | Seberapa, berapa, apakah ada hubungan/pengaruh/perbedaan | Bagaimana, mengapa, apa makna |
| Data | Angka | Teks (transkrip, catatan lapangan, dokumen), gambar |
| Subjek | Sampel yang mewakili populasi | Partisipan/informan yang dipilih karena kaya informasi |
| Instrumen | Angket, tes, skala, rubrik terstandar | Peneliti sebagai instrumen, dibantu pedoman wawancara dan observasi |
| Analisis | Statistik deskriptif dan inferensial | Kondensasi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, analisis tematik |
| Hasil | Generalisasi pada populasi | Pemahaman mendalam yang dapat ditransfer ke konteks serupa |
| Kriteria mutu | Validitas dan reliabilitas | Kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, konfirmabilitas (Lincoln & Guba, 1985) |
2.3 Contoh kasus: satu fenomena, tiga pendekatan
Contoh Kasus. Seorang guru PAI di sebuah SD mengamati bahwa kemampuan praktik salat siswa kelas V masih beragam. Fenomena yang sama dapat diteliti dengan tiga pendekatan yang berbeda:
- Kuantitatif: Apakah terdapat perbedaan kemampuan praktik salat antara siswa yang belajar dengan metode demonstrasi dan yang belajar dengan metode ceramah? Peneliti mengukur skor praktik dengan rubrik, lalu membandingkan kelompok secara statistik.
- Kualitatif: Bagaimana guru menerapkan metode demonstrasi dalam pembelajaran praktik salat, dan bagaimana siswa mengalaminya? Peneliti mengumpulkan wawancara, observasi, dan dokumentasi, lalu menganalisisnya secara tematik.
- Mixed methods: Seberapa besar peningkatan kemampuan praktik salat setelah penggunaan metode demonstrasi, dan bagaimana pengalaman siswa selama pembelajaran? Peneliti mengukur peningkatannya, lalu menggali penjelasannya lewat wawancara.
Ketiganya sah. Yang membedakan adalah pertanyaan yang ingin dijawab.
3. Jenis-Jenis Penelitian Kuantitatif
Sugiyono (2019) mengelompokkan rumusan masalah penelitian kuantitatif ke dalam tiga bentuk, yaitu deskriptif, komparatif, dan asosiatif. Bagian ini menguraikannya menjadi lima jenis yang paling sering muncul dalam skripsi pendidikan.
3.1 Penelitian kuantitatif deskriptif
Tujuan. Menggambarkan kondisi satu variabel atau lebih apa adanya. Peneliti tidak mencari hubungan dan tidak mencari pengaruh.
Ciri utama. Penelitian ini tidak memerlukan variabel X dan Y. Kesalahan yang umum terjadi adalah anggapan bahwa setiap penelitian kuantitatif harus punya variabel bebas dan terikat. Padahal satu variabel yang diukur dan digambarkan sudah cukup.
Contoh Kasus.
Judul: Tingkat Motivasi Belajar Siswa Kelas V pada Pembelajaran PAI di SD Negeri 21 Medan.
Rumusan masalah: Seberapa tinggi tingkat motivasi belajar siswa kelas V pada pembelajaran PAI?
Variabel: motivasi belajar (satu variabel).
Data: skor angket skala Likert dari setiap siswa, berdasarkan indikator motivasi.
Analisis: statistik deskriptif, yaitu rata-rata, persentase, dan kategori (misalnya rendah, sedang, tinggi).
Contoh bunyi kesimpulan: “Motivasi belajar siswa kelas V berada pada kategori tinggi dengan skor rata-rata 3,9 dari skala 5.”
Penelitian deskriptif tidak boleh menyimpulkan adanya pengaruh atau hubungan, karena desainnya memang tidak dirancang untuk itu.
3.2 Penelitian korelasional
Tujuan. Mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara dua variabel atau lebih, beserta arah dan kekuatannya.
Pola: X ↔ Y. Hubungan ini bersifat simetris, sehingga hasilnya tidak menunjukkan sebab-akibat (Cohen et al., 2018).
Teknik analisis. Korelasi Pearson Product Moment digunakan untuk data interval atau rasio yang memenuhi asumsi statistik. Korelasi Spearman digunakan untuk data ordinal atau data yang tidak memenuhi asumsi kenormalan.
Interpretasi kekuatan hubungan. Di Indonesia, pedoman yang lazim dipakai adalah tabel interpretasi koefisien korelasi dari Sugiyono (2019):
| Koefisien (r) | Kategori |
|---|---|
| 0,00 – 0,199 | Sangat rendah |
| 0,20 – 0,399 | Rendah |
| 0,40 – 0,599 | Sedang |
| 0,60 – 0,799 | Kuat |
| 0,80 – 1,000 | Sangat kuat |
Contoh Kasus.
Judul: Hubungan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar PAI Siswa Kelas V SD Negeri 21 Medan.
Rumusan masalah: Apakah terdapat hubungan antara motivasi belajar dan hasil belajar PAI?
Misalkan hasil analisis menunjukkan r = 0,62 dengan signifikansi di bawah 0,05.
Interpretasi yang benar: terdapat hubungan positif dengan kategori kuat. Siswa dengan motivasi lebih tinggi cenderung memiliki hasil belajar lebih tinggi. Koefisien determinasi (r² ≈ 0,38) menunjukkan bahwa sekitar 38% variasi hasil belajar berkaitan dengan variasi motivasi.
Interpretasi yang keliru: “Motivasi menyebabkan hasil belajar meningkat.” Bisa jadi siswa berhasil lalu menjadi lebih termotivasi, atau ada faktor ketiga seperti dukungan orang tua yang memengaruhi keduanya.
3.3 Penelitian komparatif, kausal-komparatif, dan ex post facto
Tujuan. Membandingkan dua kelompok atau lebih pada satu variabel.
Pola: Kelompok A ↔ Kelompok B.
Ada perbedaan penting yang sering terlewat. Bila peneliti sendiri yang memberikan perlakuan pada satu kelompok, penelitiannya termasuk eksperimen (subbab 3.5). Bila kelompok-kelompok itu sudah berbeda secara alami dan peneliti hanya menelusuri perbedaan hasilnya, penelitiannya termasuk kausal-komparatif atau ex post facto (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012; Cohen et al., 2018). Karakter khasnya adalah peneliti tidak memanipulasi variabel bebas, karena kejadiannya sudah berlangsung.
Analisis yang lazim: uji-t untuk dua kelompok independen, ANOVA untuk tiga kelompok atau lebih, atau uji nonparametrik (misalnya Mann-Whitney) bila asumsi tidak terpenuhi.
Contoh Kasus A (komparatif).
Judul: Perbedaan Motivasi Belajar PAI Berdasarkan Jenis Kelamin Siswa Kelas V SD Negeri 21 Medan.
Kelompok laki-laki dan perempuan sudah ada secara alami. Peneliti tidak memberi perlakuan apa pun, sehingga desainnya komparatif.Contoh Kasus B (ex post facto).
Judul: Perbedaan Hasil Belajar PAI Berdasarkan Intensitas Penggunaan Media Digital di Rumah.
Intensitas penggunaan media digital sudah terjadi sebelum penelitian. Peneliti mengidentifikasi kondisi itu dan menelusuri perbedaan hasil belajarnya.
3.4 Penelitian pengaruh (asosiatif kausal)
Tujuan. Mengetahui seberapa besar kontribusi variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).
Pola: X → Y.
Judul dengan kata “pengaruh” sangat sering muncul dalam skripsi. Ada satu hal yang perlu dipahami dengan baik. Analisis regresi dapat menaksir besarnya kontribusi X terhadap Y secara statistik. Namun klaim sebab-akibat yang kuat bergantung pada rancangan penelitiannya, bukan pada uji statistik semata (Shadish, Cook, & Campbell, 2002). Karena itu, data survei satu kali pengukuran memberi bukti yang lebih lemah tentang kausalitas dibandingkan eksperimen dengan kontrol.
Contoh Kasus.
Judul: Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Interaktif terhadap Hasil Belajar PAI Siswa Kelas V SD Negeri 21 Medan.
X: intensitas penggunaan media pembelajaran interaktif (diukur dengan angket).
Y: hasil belajar PAI (diukur dengan tes).
Analisis: uji prasyarat (normalitas, linearitas, homoskedastisitas), lalu regresi linear sederhana.
Pertanyaan yang harus dijawab mahasiswa sebelum melangkah: Apa X, apa Y, bagaimana X diukur, dan bagaimana Y diukur? Jika X berupa perlakuan yang diberikan peneliti, desain yang tepat mungkin eksperimen, bukan survei dengan regresi.
3.5 Penelitian eksperimen dan kuasi-eksperimen
Tujuan. Menguji efek suatu perlakuan (treatment) terhadap variabel tertentu dengan memanipulasi perlakuan tersebut dan mengendalikan faktor lain.
Campbell dan Stanley (1963), yang kemudian dikembangkan oleh Shadish et al. (2002), membedakan tiga kelompok desain. Notasi yang dipakai: X untuk perlakuan, O untuk observasi/pengukuran, dan R untuk penugasan acak (random assignment).
| Kelompok | Contoh desain | Notasi | Catatan |
|---|---|---|---|
| Pra-eksperimen | One-group pretest-posttest | O₁ X O₂ | Tidak ada kelompok kontrol, sehingga bukti kausalnya lemah |
| Eksperimen murni | Pretest-posttest control group | R O₁ X O₂ / R O₁ O₂ | Subjek diacak ke kelompok |
| Kuasi-eksperimen | Nonequivalent control group | O₁ X O₂ / O₁ O₂ | Kelompok tidak diacak |
Mengapa sekolah lebih sering memakai kuasi-eksperimen? Di sekolah, peneliti umumnya harus memakai kelas utuh yang sudah terbentuk sehingga siswa tidak dapat diacak ke kelompok (Cohen et al., 2018). Karena itu, kuasi-eksperimen sangat lazim dalam penelitian pendidikan.
Ancaman terhadap validitas internal. Campbell dan Stanley (1963) mengidentifikasi beberapa ancaman yang perlu diantisipasi peneliti, di antaranya history (peristiwa lain selama perlakuan), maturation (perkembangan alami subjek), testing (efek pengulangan tes), instrumentation (perubahan alat ukur), selection (perbedaan awal antarkelompok), dan mortality (subjek yang keluar di tengah penelitian).
Contoh Kasus.
Judul: Pengaruh Metode Demonstrasi terhadap Kemampuan Praktik Salat Siswa Kelas V SD Negeri 21 Medan (Kuasi-Eksperimen).
Desain: nonequivalent control group. Kelas VA menjadi kelompok eksperimen (metode demonstrasi) dan kelas VB menjadi kelompok kontrol (metode ceramah).
Alur: pretest → perlakuan selama beberapa pertemuan → posttest.
Instrumen: rubrik penilaian praktik salat yang sudah divalidasi ahli.
Analisis: uji normalitas dan homogenitas, kemudian uji-t (atau ANCOVA bila skor awal kedua kelas berbeda).
Catatan mutu: karena kelas tidak diacak, peneliti wajib membuktikan bahwa kemampuan awal kedua kelas setara, atau mengendalikannya secara statistik.
4. Jenis-Jenis Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif menjawab pertanyaan bagaimana, mengapa, dan apa maknanya. Karena tidak mengejar generalisasi statistik, mutunya dijaga melalui empat kriteria kepercayaan (trustworthiness) dari Lincoln dan Guba (1985): kredibilitas (kebenaran temuan), transferabilitas (keterterapan pada konteks lain), dependabilitas (konsistensi proses), dan konfirmabilitas (keterkaitan temuan dengan data, bukan dengan bias peneliti). Kredibilitas biasanya diperkuat dengan triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan pengecekan anggota (member checking).
Untuk menganalisis data, model yang banyak dipakai adalah alur Miles, Huberman, dan Saldaña (2014): kondensasi data, penyajian data, dan penarikan serta verifikasi kesimpulan. Alternatifnya adalah analisis tematik menurut Braun dan Clarke (2006).
Creswell dan Poth (2018) memetakan lima pendekatan kualitatif yang utama: naratif, fenomenologi, grounded theory, etnografi, dan studi kasus. Di samping itu, penelitian kualitatif deskriptif merupakan pilihan yang sangat umum dalam skripsi. Berikut uraiannya.
4.1 Kualitatif deskriptif
Tujuan. Menggambarkan fenomena secara mendalam dan dekat dengan data. Sandelowski (2000) menjelaskan bahwa deskripsi kualitatif menghasilkan ringkasan yang komprehensif tentang peristiwa dalam bahasa peristiwa itu sendiri, dan tidak menuntut tingkat abstraksi teoretis yang tinggi.
Contoh Kasus.
Judul: Penerapan Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Praktik Salat pada Mata Pelajaran PAI di SD Negeri 21 Medan.
Fokus penelitian: (1) perencanaan pembelajaran oleh guru, (2) pelaksanaan demonstrasi, (3) keterlibatan siswa, (4) kendala, dan (5) cara guru mengatasi kendala.
Informan: guru PAI (utama), siswa, dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum (pendukung).
Data: observasi kelas, wawancara, dan dokumentasi (RPP, foto kegiatan).
Analisis: kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan.
Berikut ilustrasi bagaimana data mentah berubah menjadi temuan. Perhatikan bahwa kutipan wawancara belum merupakan analisis. Analisis baru terjadi ketika peneliti memberi kode, mengelompokkan, dan menafsirkan.
| Tahap | Contoh |
|---|---|
| Kutipan wawancara (guru) | “Kalau saya contohkan dulu gerakannya, anak-anak lebih cepat mengikuti.” |
| Kode | Contoh langsung memudahkan siswa meniru gerakan |
| Kategori | Peran guru sebagai model gerakan |
| Tema | Demonstrasi mempercepat pemahaman gerakan salat |
4.2 Studi kasus
Tujuan. Memahami suatu kasus tertentu secara mendalam dalam konteks nyatanya. Yin (2018) mendefinisikan studi kasus sebagai penyelidikan empiris terhadap fenomena kontemporer dalam konteks kehidupan nyata, terutama ketika batas antara fenomena dan konteks tidak tampak jelas. Stake (1995) membedakan studi kasus intrinsik (kasusnya sendiri menarik), instrumental (kasus dipakai untuk memahami isu yang lebih luas), dan kolektif (beberapa kasus).
Ciri kunci: kasus harus terbatas (bounded). Kasus dibatasi oleh tempat, waktu, dan unit analisis. Inilah yang membedakan studi kasus dari kualitatif deskriptif biasa.
Contoh Kasus.
Judul: Implementasi Program Literasi Al-Qur’an di Sekolah Dasar: Studi Kasus di SD Negeri 21 Medan.
Kasus: program literasi Al-Qur’an di satu sekolah pada satu tahun ajaran.
Yang didalami: bagaimana program dirancang, siapa yang terlibat, bagaimana pelaksanaannya, respons siswa, kendala, strategi sekolah, dan kondisi yang memengaruhi pelaksanaan.
Sumber data: wawancara dengan kepala sekolah, guru, dan siswa; observasi kegiatan; dokumen program.
4.3 Fenomenologi
Tujuan. Memahami pengalaman hidup (lived experience) dan makna yang diberikan individu terhadap suatu fenomena. Moustakas (1994) menekankan upaya menangkap esensi pengalaman bersama, dengan peneliti berusaha menangguhkan prasangkanya (epoche/bracketing).
Pertanyaannya berbeda dari deskriptif biasa. Pertanyaan “apa yang dilakukan guru?” cocok untuk kualitatif deskriptif, sedangkan “bagaimana guru mengalami, merasakan, dan memaknai pengalaman itu?” mengarah ke fenomenologi.
Contoh Kasus.
Judul: Pengalaman Guru PAI dalam Menghadapi Tantangan Pembelajaran pada Era Digital: Studi Fenomenologi.
Partisipan: guru PAI yang benar-benar mengalami fenomena tersebut (kriteria yang jelas, misalnya minimal tiga tahun mengajar dengan media digital).
Data utama: wawancara mendalam.
Hasil yang dicari: esensi pengalaman, misalnya “kecemasan terhadap ketertinggalan teknologi yang berubah menjadi kemauan belajar bersama rekan sejawat”.
Jumlah partisipan dalam fenomenologi biasanya relatif kecil karena yang dikejar adalah kedalaman. Jumlahnya ditentukan oleh kecukupan data, bukan oleh rumus (Patton, 2015).
4.4 Etnografi
Tujuan. Memahami budaya, nilai, kebiasaan, dan pola interaksi suatu kelompok. Etnografi menuntut keterlibatan lapangan yang cukup lama melalui observasi partisipan dan catatan lapangan yang rinci (Spradley, 1980). Wawancara dengan kepala sekolah saja tidak cukup karena peneliti harus memahami kehidupan kelompok itu dari dekat.
Contoh Kasus.
Judul: Budaya Religius dalam Kehidupan Sekolah Dasar: Studi Etnografi di SD Negeri 21 Medan.
Yang diamati: pembiasaan salat duha, salam dan sapa, tradisi peringatan hari besar Islam, aturan tidak tertulis, dan interaksi warga sekolah sehari-hari.
Data: catatan lapangan dari observasi partisipan, wawancara informal, dokumen kegiatan.
4.5 Grounded theory
Tujuan. Membangun konsep atau teori yang muncul dari data lapangan, bukan menguji teori yang sudah ada (Glaser & Strauss, 1967). Prosesnya menggunakan perbandingan konstan dan pengodean bertahap, misalnya pengodean terbuka, aksial, dan selektif (Strauss & Corbin, 1998). Charmaz (2014) mengembangkan versi konstruktivis yang menekankan peran peneliti dalam membentuk teori.
Contoh Kasus.
Judul: Strategi Guru dalam Membangun Kemandirian Belajar Siswa Sekolah Dasar: Pendekatan Grounded Theory.
Peneliti mengumpulkan data, memberi kode, membandingkan data secara terus-menerus, membentuk kategori, lalu membangun model konseptual tentang proses terbentuknya kemandirian belajar.
Catatan: untuk skripsi S1, pendekatan ini umumnya lebih berat daripada kualitatif deskriptif atau studi kasus, sehingga perlu dipertimbangkan dengan matang bersama pembimbing.
5. Desain Khusus dalam Penelitian Pendidikan
Tiga desain berikut sangat akrab bagi mahasiswa kependidikan.
5.1 Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Tujuan. Memperbaiki praktik pembelajaran di kelas melalui tindakan yang direncanakan dan direfleksikan secara berulang. Kemmis, McTaggart, dan Nixon (2014) menggambarkannya sebagai siklus spiral perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Di Indonesia, panduan yang banyak dirujuk adalah Arikunto, Suhardjono, dan Supardi (2006).
Pola: kondisi awal → tindakan → observasi → refleksi → perbaikan → siklus berikutnya.
Contoh Kasus.
Judul: Penerapan Metode Demonstrasi untuk Meningkatkan Kemampuan Praktik Salat Siswa Kelas V SD Negeri 21 Medan.
Siklus I: perencanaan → tindakan (demonstrasi gerakan) → observasi → refleksi. Misalkan hanya 60% siswa mencapai kriteria ketuntasan.
Siklus II: perbaikan berdasarkan refleksi (misalnya siswa diberi kesempatan praktik berpasangan) → tindakan → observasi → refleksi. Misalkan ketuntasan meningkat menjadi 85%, sesuai indikator keberhasilan yang ditetapkan sejak awal.
PTK mudah dikacaukan dengan eksperimen, padahal keduanya berbeda.
| Aspek | PTK | Eksperimen |
|---|---|---|
| Tujuan | Memperbaiki praktik di kelas tertentu | Menguji efek perlakuan, mengarah pada generalisasi |
| Peran peneliti | Pelaku tindakan (biasanya guru) atau berkolaborasi dengan guru | Pengamat yang mengendalikan variabel |
| Kelompok kontrol | Tidak diwajibkan | Umumnya ada |
| Sifat | Siklus, situasional, fleksibel | Terstruktur, terkontrol |
Yang membuat sebuah penelitian menjadi PTK adalah adanya siklus tindakan dan refleksi yang bertujuan memperbaiki pembelajaran. Kalimat “saya meneliti penggunaan metode demonstrasi” belum cukup untuk menyebutnya PTK.
5.2 Research and Development (R&D)
Tujuan. Menghasilkan produk (media, modul, model, instrumen) dan menguji kelayakannya. Borg dan Gall dalam Gall, Gall, dan Borg (2003) memandang R&D pendidikan sebagai proses mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan melalui siklus penelitian, pengembangan, uji lapangan, dan revisi. Sugiyono (2019) merinci sepuluh langkah, mulai dari potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, uji coba produk, revisi produk, uji coba pemakaian, revisi produk, sampai produksi massal.
Dalam praktik, banyak peneliti memakai model yang lebih ringkas, misalnya ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation; Branch, 2009) atau 4D (Define, Design, Develop, Disseminate; Thiagarajan, Semmel, & Semmel, 1974). Mutu produk umumnya dinilai dari tiga aspek, yaitu kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan (Nieveen, 1999).
Contoh Kasus.
Judul: Pengembangan E-Modul Pembelajaran Fikih Berbasis Augmented Reality untuk Siswa Madrasah Ibtidaiyah.
Tahapan: analisis kebutuhan → desain e-modul → pengembangan → validasi ahli materi dan ahli media → revisi → uji coba terbatas → evaluasi.
Catatan penting: jika peneliti ingin membuktikan keefektifan produk, tahap uji coba memerlukan desain yang mampu menguji efek, misalnya kuasi-eksperimen. Penilaian validator dan angket respons pengguna saja hanya menunjukkan kevalidan dan kepraktisan.
5.3 Evaluasi program
Tujuan. Menilai keterlaksanaan dan pencapaian suatu program berdasarkan kriteria tertentu. Bedanya dengan penelitian pengaruh: evaluasi tidak bertanya “apakah program berpengaruh terhadap prestasi?”, tetapi “apakah program sudah sesuai kebutuhan, memadai masukannya, berjalan prosesnya, dan tercapai hasilnya?”
Model yang paling populer adalah CIPP dari Stufflebeam: Context (kebutuhan dan tujuan), Input (sumber daya dan rencana), Process (pelaksanaan), dan Product (hasil). Dalam pengembangan terbarunya, evaluasi produk dirinci lagi menjadi dampak, keefektifan, keberlanjutan, dan keterterapan (Stufflebeam & Zhang, 2017).
Contoh Kasus.
Judul: Evaluasi Program Tahfiz Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Menggunakan Model CIPP.
- Context: Apakah tujuan program sesuai kebutuhan siswa dan harapan orang tua?
- Input: Apakah guru, kurikulum, waktu, dan sarana memadai?
- Process: Bagaimana pelaksanaan setoran dan muraja’ah dijalankan?
- Product: Sejauh mana target hafalan tercapai dan apa dampaknya? Data: dapat kuantitatif, kualitatif, atau gabungan, sesuai kebutuhan evaluasi.
6. Penelitian Mixed Methods
Pendekatan ini dipakai ketika satu jenis data belum cukup menjawab masalah. Kuantitatif memberi ukuran, tetapi tidak selalu menjelaskan mengapa. Kualitatif memberi penjelasan, tetapi tidak menyediakan ukuran yang dapat dibandingkan. Creswell dan Plano Clark (2018) mengidentifikasi tiga desain inti:
| Desain | Urutan | Kegunaan |
|---|---|---|
| Convergent | Kuantitatif dan kualitatif dikumpulkan bersamaan, lalu hasilnya dibandingkan | Memperoleh gambaran yang saling menguatkan |
| Explanatory sequential | Kuantitatif lebih dulu, lalu kualitatif untuk menjelaskan | Menjelaskan hasil angka yang perlu diperdalam |
| Exploratory sequential | Kualitatif lebih dulu, lalu kuantitatif | Menjelajahi fenomena baru lalu mengujinya, misalnya untuk menyusun instrumen |
Contoh Kasus (explanatory sequential).
Judul: Efektivitas Media Pembelajaran Interaktif terhadap Hasil Belajar PAI dan Pengalaman Siswa dalam Menggunakannya.
Fase 1 (kuantitatif): pretest → perlakuan → posttest untuk mengukur peningkatan hasil belajar.
Fase 2 (kualitatif): wawancara dengan siswa yang peningkatannya tinggi dan rendah untuk menggali mengapa media itu membantu, bagian mana yang sulit, dan bagaimana pengalaman mereka.
Integrasi: temuan angka dan penjelasan naratif disatukan dalam pembahasan.
Peringatan. Mixed methods bukan cara aman “menggabungkan semuanya supaya lengkap”. Desain ini menuntut kemampuan di dua tradisi sekaligus, waktu yang lebih panjang, dan integrasi yang nyata antara kedua jenis data. Untuk skripsi S1, satu pendekatan yang dikerjakan dengan baik lebih bermutu daripada dua pendekatan yang dikerjakan setengah-setengah.
7. Cara Cepat Menebak Jenis Penelitian dari Pertanyaan
Tabel berikut dapat dipakai sebagai petunjuk awal. Fungsinya membantu mengarahkan pemikiran, tetapi tabel ini bukan aturan mutlak.
| Bentuk pertanyaan utama | Arah jenis penelitian |
|---|---|
| Seberapa tinggi/berapa besar…? | Kuantitatif deskriptif |
| Apakah ada hubungan antara…? | Korelasional |
| Apakah terdapat perbedaan antara…? | Komparatif atau eksperimen |
| Apakah X berpengaruh terhadap Y? | Pengaruh (asosiatif) atau eksperimen |
| Apakah perlakuan meningkatkan…? | Eksperimen atau PTK, tergantung konteks |
| Bagaimana penerapan…? | Kualitatif deskriptif |
| Bagaimana pengalaman/makna…? | Fenomenologi |
| Bagaimana suatu kasus (terbatas)…? | Studi kasus |
| Bagaimana budaya/kebiasaan kelompok…? | Etnografi |
| Bagaimana proses terbentuknya (teori)…? | Grounded theory |
| Bagaimana memperbaiki pembelajaran…? | PTK |
| Bagaimana mengembangkan produk…? | R&D |
| Apakah program sudah mencapai tujuan…? | Evaluasi program |
| Seberapa besar dan mengapa…? | Mixed methods dapat dipertimbangkan |
Kata “apakah”, “bagaimana”, atau “pengaruh” hanyalah petunjuk awal. Yang sebenarnya menentukan adalah apa yang ingin diketahui peneliti dan bukti apa yang dibutuhkan untuk menjawabnya.
8. Tiga Salah Kaprah yang Perlu Diluruskan
8.1 “Penelitian kualitatif tidak punya variabel”
Pernyataan ini kurang tepat. Yang benar, penelitian kualitatif tidak mengoperasionalkan dan mengukur variabel seperti penelitian kuantitatif. Peneliti kualitatif bekerja dengan fokus penelitian, konsep, kategori, dan tema yang berkembang dari data. Sugiyono (2019) menjelaskan bahwa objek penelitian kualitatif dipahami sebagai situasi sosial yang terdiri atas tempat, pelaku, dan aktivitas.
| Kuantitatif | Kualitatif |
|---|---|
| Variabel dan indikator ditetapkan sebelum data dikumpulkan | Fokus ditetapkan di awal, lalu kategori dan tema muncul dari data |
| Diukur dengan instrumen baku | Ditangkap lewat wawancara, observasi, dan dokumen |
| Dinyatakan dalam angka | Dinyatakan dalam narasi dan tema |
Akibat praktisnya, mahasiswa tidak perlu memaksakan variabel X dan Y ke dalam penelitian kualitatif.
8.2 “Kata apakah pasti berarti kuantitatif”
Bandingkan tiga pertanyaan berikut:
| Pertanyaan | Jenis yang sesuai | Alasan |
|---|---|---|
| Apakah guru menerapkan metode demonstrasi? | Deskriptif (observasi atau kualitatif) | Menanyakan ada atau tidaknya praktik, tanpa menguji apa pun |
| Bagaimana guru menerapkan metode demonstrasi? | Kualitatif | Menanyakan proses dan cara |
| Apakah metode demonstrasi berpengaruh terhadap hasil belajar? | Kuantitatif (eksperimen atau asosiatif) | Menuntut pengujian pengaruh |
Bukan kata “apakah” yang menentukan pendekatan, melainkan tuntutan pembuktian yang terkandung dalam pertanyaan.
8.3 “Efektif” harus punya ukuran
Kata efektif mengandung tuntutan pembuktian terhadap suatu kriteria keberhasilan. Pertanyaan kritisnya: efektif menurut ukuran apa?
- Efektif menurut hasil belajar → harus ada ukuran hasil belajar.
- Efektif menurut peningkatan kemampuan praktik → harus ada pengukuran sebelum dan sesudah, atau pembanding yang jelas.
- Efektif menurut pengalaman guru dan siswa → dapat digali secara kualitatif. Namun istilah yang lebih aman adalah manfaat, pengalaman, persepsi, atau kontribusi, bukan klaim efektivitas yang bersifat umum.
Contoh Kasus. Mahasiswa menulis judul “Efektivitas Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Praktik Salat”.
Jalur kuantitatif (konsisten): rumusan masalah “Apakah nilai kemampuan praktik salat meningkat setelah menggunakan metode demonstrasi?” Desainnya pretest → demonstrasi → posttest, dengan analisis statistik.
Jalur kualitatif (konsisten): judul diubah menjadi “Penerapan Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Praktik Salat” dengan rumusan masalah “Bagaimana penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran praktik salat, apa manfaatnya menurut guru dan siswa, dan apa kendalanya?”
Tidak konsisten: mempertahankan kata “efektivitas” di judul, lalu memakai wawancara tanpa ukuran keberhasilan apa pun. Kesimpulan seperti “metode demonstrasi terbukti efektif” tidak dapat ditarik dari data semacam itu.
Jika tujuan sebenarnya adalah menguji efektivitas, lebih baik desain penelitiannya diubah menjadi kuantitatif, bukan memaksakan penelitian kualitatif.
9. Konsistensi Populasi, Sampel, dan Kesimpulan
Kesalahan lain yang sangat sering muncul adalah ketidaksesuaian antara batas penelitian yang dinyatakan di judul dan populasi yang digunakan.
9.1 Tiga istilah yang harus dibedakan
- Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek dengan kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2019).
- Sampel adalah bagian dari populasi tersebut, dari segi jumlah dan karakteristiknya (Sugiyono, 2019).
- Fraenkel et al. (2012) membedakan populasi target (kelompok besar yang ingin digeneralisasi) dari populasi terjangkau (kelompok yang benar-benar dapat diakses peneliti). Sampel diambil dari populasi terjangkau.
9.2 Contoh kasus: kelas V SD Negeri 21 Medan
Contoh Kasus.
Judul: Pengaruh Penggunaan Media X terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas V SD Negeri 21 Medan.
Sejak Bab I, penelitian dibatasi pada siswa kelas V. Konsekuensinya, populasi adalah seluruh siswa kelas V di sekolah itu. Siswa kelas I, II, III, IV, dan VI bukan bagian dari populasi.Seluruh rantai penelitian harus konsisten dengan batas tersebut:
| Komponen | Isi yang konsisten |
|---|---|
| Judul dan batasan | Siswa kelas V SD Negeri 21 Medan |
| Populasi | Seluruh siswa kelas V (misalnya 58 siswa: kelas VA 29 dan VB 29) |
| Sampel | Seluruh siswa kelas V (total sampling), atau sebagian bila memakai teknik sampling tertentu |
| Instrumen | Diberikan kepada siswa kelas V |
| Analisis | Berdasarkan data siswa kelas V |
| Kesimpulan | Berlaku dalam batas populasi siswa kelas V yang diteliti |
Untuk jumlah subjek yang kecil, pedoman praktis yang sering dirujuk di Indonesia adalah: jika subjek kurang dari 100, lebih baik diambil semuanya sehingga penelitiannya menjadi penelitian populasi (Arikunto, 2013).
9.3 Debat yang sering terjadi dalam bimbingan
Seorang mahasiswa menulis bahwa “populasi penelitian adalah siswa SD Negeri 21 Medan”, padahal judul dan batasannya menyebut kelas V. Saat ditegur, ia berargumen, “Iya, Pak, hasil rumus Slovin-nya 15, dan semuanya saya ambil dari kelas V.”
Argumen itu tidak menyelesaikan masalah, karena rumus penentu ukuran sampel tidak dapat memperbaiki kesalahan definisi populasi. Ada dua kemungkinan:
- Jika penelitian memang dibatasi pada kelas V, populasinya harus ditulis sebagai siswa kelas V. Sampel yang seluruhnya berasal dari kelas V kemudian konsisten.
- Jika populasinya memang seluruh siswa sekolah, sampel seharusnya ditarik dari seluruh tingkat kelas. Sampel yang hanya berasal dari kelas V tidak mewakili populasi tersebut, sehingga kesimpulannya tidak boleh digeneralisasi ke seluruh siswa sekolah.
Prinsip dasarnya: sampel harus berasal dari populasi yang didefinisikan, dan kesimpulan tidak boleh melampaui populasi itu. Adapun cara menghitung ukuran sampel, kelebihan dan keterbatasan rumus Slovin (Tejada & Punzalan, 2012), serta teknik-teknik sampling akan dibahas tersendiri pada bagian selanjutnya dari seri ini.
9.4 Bagaimana dengan penelitian kualitatif?
Penelitian kualitatif tidak memakai populasi dan sampel dalam pengertian statistik. Peneliti memilih partisipan atau informan secara purposif karena mereka kaya informasi tentang fenomena yang diteliti (Patton, 2015). Jumlahnya ditentukan oleh kecukupan data dan kejenuhan informasi (saturasi). Guest, Bunce, dan Johnson (2006), misalnya, menemukan dalam studi mereka bahwa sebagian besar tema sudah muncul dalam belasan wawancara pertama pada kelompok yang relatif homogen. Karena itu, rumus penentu jumlah sampel tidak relevan untuk penelitian kualitatif. Sebagai gantinya, peneliti kualitatif memperhatikan transferabilitas, yaitu sejauh mana temuan dapat diterapkan pada konteks lain yang serupa (Lincoln & Guba, 1985).
10. Satu Fenomena, Banyak Penelitian yang Sah
Contoh berikut merangkum hampir seluruh isi artikel ini. Fenomenanya sama: “Kemampuan praktik salat siswa masih beragam.” Dengan pertanyaan yang berbeda, lahir jenis penelitian yang berbeda.
| Jenis | Contoh rumusan masalah |
|---|---|
| Kuantitatif deskriptif | Seberapa tinggi kemampuan praktik salat siswa kelas V? |
| Korelasional | Apakah terdapat hubungan antara pemahaman bacaan salat dan kemampuan praktik salat? |
| Kuasi-eksperimen | Apakah metode demonstrasi meningkatkan kemampuan praktik salat siswa dibandingkan metode ceramah? |
| Kualitatif deskriptif | Bagaimana guru menerapkan metode demonstrasi dalam pembelajaran praktik salat? |
| Studi kasus | Bagaimana pelaksanaan pembelajaran praktik salat melalui metode demonstrasi pada kelas V di sekolah tertentu? |
| PTK | Bagaimana penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan praktik salat siswa melalui tindakan kelas? |
| R&D | Bagaimana mengembangkan media video panduan praktik salat yang valid, praktis, dan efektif? |
| Evaluasi program | Bagaimana keterlaksanaan pembelajaran praktik salat berdasarkan indikator yang telah ditetapkan? |
| Mixed methods | Seberapa besar peningkatan kemampuan praktik salat setelah penggunaan metode demonstrasi, dan bagaimana pengalaman siswa selama pembelajaran? |
Satu fenomena dapat melahirkan beberapa penelitian yang sah, tergantung pertanyaan yang ingin dijawab. Karena itu, jenis penelitian harus lahir dari masalah penelitian, bukan dari judul yang sudah dipilih terlebih dahulu.
11. Latihan: Membedah Judul Skripsi
Coba bedah lima judul ilustratif berikut sebelum membaca jawabannya.
| Judul (ilustratif) | Jenis penelitian | Subjek dan data | Analisis |
|---|---|---|---|
| Pengaruh Media Video terhadap Hasil Belajar Fikih Siswa MI Kelas IV | Kuantitatif: kuasi-eksperimen (bila video diberikan peneliti) atau asosiatif (bila memakai data penggunaan yang sudah ada) | Populasi siswa kelas IV; skor tes hasil belajar | Uji prasyarat, uji-t atau regresi |
| Hubungan Kedisiplinan Beribadah dengan Akhlak Siswa Kelas VII | Korelasional | Populasi siswa kelas VII; skor angket dua variabel | Korelasi Pearson atau Spearman |
| Tingkat Literasi Digital Guru PAI di Kecamatan X | Kuantitatif deskriptif | Populasi guru PAI di kecamatan tersebut; skor angket | Statistik deskriptif |
| Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata Pelajaran PAI di SMP Y | Kualitatif deskriptif atau studi kasus | Informan: guru, siswa, wakil kepala sekolah; wawancara, observasi, dokumen | Kondensasi, penyajian, verifikasi data |
| Pengembangan Modul Ajar Akidah Akhlak Berbasis Proyek untuk Kelas VIII | R&D | Validator ahli dan siswa uji coba; lembar validasi, angket respons | Analisis kelayakan (validasi) dan kepraktisan |
Latihan ini dapat diulang untuk judul mana pun dengan tujuh pertanyaan berurutan: masalah → jenis penelitian → variabel atau fokus → populasi atau informan → sampel → instrumen → teknik analisis.
12. Daftar Periksa Konsistensi Penelitian
Sebelum menyerahkan proposal, periksa apakah setiap komponen menjawab pertanyaan yang seharusnya.
| Komponen | Harus menjawab |
|---|---|
| Judul | Apa yang diteliti? |
| Rumusan masalah | Apa yang ingin diketahui? |
| Tujuan | Apa yang ingin dicapai? |
| Metode | Bagaimana cara mengetahuinya? |
| Data | Bukti apa yang diperlukan? |
| Analisis | Bagaimana bukti itu dianalisis? |
| Kesimpulan | Apa jawaban akhirnya? |
Jika ada satu komponen yang tidak menjawab komponen di atasnya, proposal tersebut perlu diperbaiki sebelum dilanjutkan.
13. Sepuluh Kesalahan Metodologis yang Paling Sering Terjadi
- Populasi tidak jelas. Batasnya tidak sesuai dengan judul dan lokasi penelitian.
- Sampel tidak berasal dari populasi yang didefinisikan.
- Penelitian kualitatif dipaksa memakai variabel X dan Y yang diukur seperti kuantitatif.
- Penelitian kualitatif menentukan informan dengan rumus Slovin.
- Judul berbicara tentang pengaruh, tetapi desainnya hanya deskriptif.
- Memakai kata “efektivitas” tanpa ukuran efektivitas.
- Instrumen tidak sesuai dengan variabel atau fokus penelitian.
- Rumusan masalah tidak sesuai dengan data yang dikumpulkan.
- Analisis tidak menjawab rumusan masalah, misalnya statistik yang tidak sesuai jenis data, atau kutipan wawancara yang dianggap sebagai analisis.
- Kesimpulan terlalu luas dibandingkan dengan populasi atau konteks yang diteliti.
Rangkuman
- Jenis penelitian ditentukan oleh pertanyaan penelitian, bukan oleh judul yang sudah dipilih atau kemudahan pengolahan data.
- Bedakan tiga tingkat keputusan: pendekatan, desain/jenis, dan metode/teknik.
- Kuantitatif meliputi deskriptif, korelasional, komparatif, pengaruh, dan eksperimen. Tidak semua penelitian kuantitatif memerlukan variabel X dan Y.
- Kualitatif meliputi deskriptif, studi kasus, fenomenologi, etnografi, dan grounded theory. Mutunya dijaga melalui kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas.
- PTK, R&D, dan evaluasi program merupakan desain khusus pendidikan dengan tujuan dan logikanya sendiri.
- Kata “apakah” dan “efektif” tidak otomatis menentukan pendekatan. Yang menentukan adalah tuntutan pembuktian dalam pertanyaan penelitian.
- Populasi, sampel, instrumen, analisis, dan kesimpulan harus konsisten dengan batas penelitian yang dinyatakan sejak awal.
Pertanyaan Refleksi
- Ambil satu judul skripsi (milik Anda atau mahasiswa bimbingan). Apa rumusan masalahnya, dan jenis penelitian apa yang paling sesuai untuk menjawabnya?
- Jika judul menggunakan kata “efektivitas”, kriteria keberhasilan apa yang dapat diukur, dan dengan instrumen apa?
- Apakah batas populasi pada Bab III sama dengan batas penelitian pada Bab I? Jika tidak, bagian mana yang harus diperbaiki?
- Mengapa satu fenomena dapat melahirkan penelitian kuantitatif, kualitatif, PTK, dan R&D sekaligus? Apa yang membedakannya?
Artikel Lanjutan
Bagian berikutnya dalam seri ini membahas populasi, sampel, dan teknik sampling secara mendalam. Pembahasannya mencakup perbedaan probability dan non-probability sampling, keterbatasan rumus Slovin, serta cara menentukan informan pada penelitian kualitatif.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. (2013). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik (Edisi revisi). Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, S., Suhardjono, & Supardi. (2006). Penelitian tindakan kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Borg, W. R., & Gall, M. D., dalam Gall, M. D., Gall, J. P., & Borg, W. R. (2003). Educational research: An introduction (7th ed.). Boston: Allyn & Bacon.
Branch, R. M. (2009). Instructional design: The ADDIE approach. New York: Springer.
Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101.
Campbell, D. T., & Stanley, J. C. (1963). Experimental and quasi-experimental designs for research. Chicago: Rand McNally.
Charmaz, K. (2014). Constructing grounded theory (2nd ed.). London: SAGE Publications.
Cohen, L., Manion, L., & Morrison, K. (2018). Research methods in education (8th ed.). London: Routledge.
Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Creswell, J. W., & Plano Clark, V. L. (2018). Designing and conducting mixed methods research (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2012). How to design and evaluate research in education (8th ed.). New York: McGraw-Hill.
Glaser, B. G., & Strauss, A. L. (1967). The discovery of grounded theory: Strategies for qualitative research. Chicago: Aldine.
Guest, G., Bunce, A., & Johnson, L. (2006). How many interviews are enough? An experiment with data saturation and variability. Field Methods, 18(1), 59–82.
Kemmis, S., McTaggart, R., & Nixon, R. (2014). The action research planner: Doing critical participatory action research. Singapore: Springer.
Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. Beverly Hills, CA: SAGE Publications.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Moustakas, C. (1994). Phenomenological research methods. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Nieveen, N. (1999). Prototyping to reach product quality. Dalam J. van den Akker, R. M. Branch, K. Gustafson, N. Nieveen, & T. Plomp (Eds.), Design approaches and tools in education and training (hlm. 125–135). Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.
Patton, M. Q. (2015). Qualitative research and evaluation methods (4th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Sandelowski, M. (2000). Whatever happened to qualitative description? Research in Nursing & Health, 23(4), 334–340.
Shadish, W. R., Cook, T. D., & Campbell, D. T. (2002). Experimental and quasi-experimental designs for generalized causal inference. Boston: Houghton Mifflin.
Spradley, J. P. (1980). Participant observation. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Stake, R. E. (1995). The art of case study research. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Strauss, A., & Corbin, J. (1998). Basics of qualitative research: Techniques and procedures for developing grounded theory (2nd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Stufflebeam, D. L., & Zhang, G. (2017). The CIPP evaluation model: How to evaluate for improvement and accountability. New York: Guilford Press.
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Tejada, J. J., & Punzalan, J. R. B. (2012). On the misuse of Slovin’s formula. The Philippine Statistician, 61(1), 129–136.
Thiagarajan, S., Semmel, D. S., & Semmel, M. I. (1974). Instructional development for training teachers of exceptional children: A sourcebook. Bloomington: Indiana University.
Yin, R. K. (2018). Case study research and applications: Design and methods (6th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.