Apa Itu Systematic Literature Review (SLR)? Pengertian, Jenis Review, dan Kapan Anda Membutuhkannya
Pengertian SLR, bedanya dengan tinjauan pustaka biasa, scoping review, dan meta-analisis, serta kapan SLR tepat untuk skripsi, lengkap contoh kasus.
Pendahuluan
Seorang mahasiswa mengumumkan bahwa skripsinya akan berupa SLR. Ia sudah mengumpulkan dua puluh artikel jurnal tentang media pembelajaran digital dan meringkasnya satu per satu: judul, penulis, metode, hasil. Ketika dosen bertanya, “Bagaimana Anda memilih dua puluh ini? Kenapa bukan seratus, atau lima belas? Adakah artikel penting yang tidak masuk?”, mahasiswa itu terdiam. Ia tidak punya jawaban, karena pemilihannya memang berdasarkan artikel mana yang lebih dulu muncul di pencarian.
Yang ia kerjakan adalah tinjauan pustaka biasa yang rapi. Itu tidak salah, tetapi itu bukan SLR. Ciri utama SLR justru terletak pada pertanyaan yang dosen ajukan tadi: proses pemilihan bukti yang sistematis, transparan, dan dapat diulang orang lain.
Artikel ini adalah Part 1 dari seri Belajar Menulis Systematic Literature Review (SLR). Sebelum masuk ke teknis pencarian dan penulisan, kita membangun fondasinya dulu: apa itu SLR, apa bedanya dengan jenis review lain, pedoman mana yang dipakai, dan kapan SLR benar-benar tepat untuk Anda.
Catatan penting. Informasi tentang pedoman dan layanan pada artikel ini dicek pada 29 September 2026 dan dapat berubah. Aturan kampus tentang apakah SLR boleh menjadi skripsi, jumlah minimal artikel, dan pedoman yang dipakai berbeda-beda. Pedoman skripsi di institusi Anda dan arahan dosen pembimbing selalu menjadi acuan utama.
Setelah membaca artikel ini, Anda diharapkan mampu:
- menjelaskan pengertian dan ciri-ciri SLR;
- membedakan SLR dari tinjauan pustaka biasa, scoping review, meta-analisis, dan studi pemetaan;
- memilih pedoman yang sesuai dengan bidang Anda;
- menilai apakah SLR cocok untuk pertanyaan dan kondisi Anda;
- memperkirakan beban kerja SLR secara realistis;
- menyiapkan pertanyaan yang tepat untuk diajukan kepada kampus dan pembimbing.
1. Dua Fungsi Tinjauan Pustaka
Kata “tinjauan pustaka” sering dipakai untuk dua hal yang berbeda.
| Fungsi | Posisi dalam penelitian | Contoh |
|---|---|---|
| Sebagai bagian dari penelitian lain | Menjadi landasan teori dan kajian penelitian terdahulu di Bab II | Bab II skripsi eksperimen tentang media pembelajaran |
| Sebagai penelitian tersendiri (metode) | Tinjauan itu sendiri merupakan penelitian, dengan pertanyaan, metode, hasil, dan kesimpulan | SLR tentang efektivitas media pembelajaran digital |
Pada fungsi pertama, tinjauan pustaka mendukung penelitian lapangan. Pada fungsi kedua, tinjauan pustaka adalah penelitiannya. Datanya berupa hasil-hasil penelitian yang sudah ada, sehingga SLR termasuk penelitian sekunder, sedangkan studi yang diulas disebut studi primer (Kitchenham & Charters, 2007).
2. Apa Itu SLR?
2.1 Definisi
Kitchenham dan Charters (2007), yang pedomannya sangat berpengaruh di bidang rekayasa perangkat lunak dan informatika, mendefinisikan systematic literature review sebagai cara untuk mengidentifikasi, menilai, dan menafsirkan seluruh penelitian yang tersedia dan relevan dengan pertanyaan penelitian, topik, atau fenomena tertentu. Di ilmu sosial, Petticrew dan Roberts (2006) menegaskan logika serupa: review sistematis memakai metode yang eksplisit untuk mengurangi bias dalam mengumpulkan dan menyimpulkan bukti. Tranfield, Denyer, dan Smart (2003) mengadaptasi pendekatan ini untuk bidang manajemen dengan menekankan proses yang transparan dan dapat direplikasi.
Kata kuncinya ada tiga: sistematis (mengikuti langkah yang terencana), transparan (setiap keputusan dapat dilihat dan dinilai), dan dapat direplikasi (orang lain yang mengikuti prosedur yang sama seharusnya dapat memperoleh hasil serupa).
2.2 Ciri-ciri utama
| Ciri | Penjelasan |
|---|---|
| Pertanyaan review yang jelas | Sempit, terdefinisi, dan dapat dijawab dari literatur |
| Protokol tertulis | Rencana review disusun sebelum pencarian dan seleksi dilakukan |
| Pencarian komprehensif | Pada beberapa sumber, dengan strategi yang didokumentasikan |
| Kriteria inklusi dan eksklusi eksplisit | Ditetapkan di awal dan diterapkan secara konsisten |
| Seleksi yang tercatat | Jumlah studi pada tiap tahap dan alasan pengecualian dilaporkan |
| Penilaian kualitas studi | Kekuatan dan kelemahan studi yang masuk dinilai |
| Ekstraksi data terstruktur | Informasi diambil dengan formulir yang seragam |
| Sintesis | Hasil digabungkan secara terstruktur, bukan hanya diringkas satu per satu |
| Pelaporan mengikuti pedoman | Misalnya PRISMA 2020 |
2.3 Alur umum
1. Merumuskan pertanyaan review
2. Menyusun protokol
3. Mencari literatur secara sistematis
4. Menyeleksi studi (inklusi dan eksklusi)
5. Menilai kualitas studi
6. Mengekstraksi data
7. Mensintesis hasil
8. Melaporkan hasil
Delapan langkah ini menjadi kerangka seri ini. Setiap langkah akan dibahas pada bagian tersendiri, dengan contoh kasus.
3. SLR Berbeda dari Tinjauan Pustaka Biasa
| Aspek | Tinjauan pustaka naratif biasa | SLR |
|---|---|---|
| Tujuan | Membangun landasan dan konteks bagi penelitian | Menjawab pertanyaan spesifik berdasarkan bukti yang dikumpulkan secara sistematis |
| Pertanyaan | Luas dan fleksibel | Sempit dan terdefinisi |
| Pemilihan sumber | Berdasarkan pertimbangan penulis, sering tidak dijelaskan | Berdasarkan kriteria eksplisit dan pencarian terdokumentasi |
| Pencarian | Tidak harus komprehensif | Komprehensif dan dapat direplikasi |
| Penilaian kualitas | Tidak selalu ada | Umumnya ada |
| Sintesis | Naratif dan argumentatif | Terstruktur: naratif terstruktur, tematik, atau statistik |
| Pelaporan | Bebas | Mengikuti pedoman baku |
| Risiko bias pemilihan | Lebih rentan terhadap subjektivitas | Dikendalikan lewat prosedur yang transparan |
Apa yang sering dikira SLR, tetapi bukan
| Yang sering dikerjakan | Mengapa belum SLR |
|---|---|
| Merangkum 20 jurnal satu per satu | Tidak ada pertanyaan review, kriteria, atau proses seleksi yang dapat dijelaskan |
| Mengumpulkan artikel dari satu database saja tanpa strategi | Pencarian tidak komprehensif dan tidak terdokumentasi |
| Menulis “metode SLR” tetapi tidak menyebut kriteria inklusi | Seleksi tidak dapat direplikasi |
| Memasukkan semua artikel yang ditemukan tanpa penilaian | Kualitas studi tidak dipertimbangkan |
| Menjelaskan hasil tiap artikel tanpa membandingkannya | Tidak ada sintesis |
4. Peta Jenis Review
Grant dan Booth (2009) menguraikan belasan tipe review beserta metodologinya. Bagi mahasiswa, yang paling relevan adalah sebagai berikut.
| Jenis review | Tujuan utama | Ciri | Keluaran |
|---|---|---|---|
| Tinjauan naratif/tradisional | Memberi gambaran dan landasan konseptual | Tidak terstruktur ketat | Uraian tematik atau argumen |
| Systematic review (SLR) | Menjawab pertanyaan spesifik dari semua bukti yang memenuhi kriteria | Protokol, pencarian, seleksi, penilaian kualitas, sintesis | Jawaban berbasis bukti dengan tingkat keyakinan |
| Scoping review | Memetakan cakupan dan jenis bukti pada topik yang luas | Pertanyaan lebih luas; penilaian kualitas tidak selalu dilakukan (Arksey & O’Malley, 2005) | Peta topik dan kesenjangan |
| Studi pemetaan sistematis (systematic mapping) | Mengklasifikasikan literatur pada suatu bidang | Umum di rekayasa perangkat lunak (Petersen, Feldt, Mujtaba, & Mattsson, 2008) | Peta sebaran topik, metode, dan tren |
| Meta-analisis | Menggabungkan hasil kuantitatif beberapa studi secara statistik | Membutuhkan studi yang sebanding dan data yang cukup (Borenstein, Hedges, Higgins, & Rothstein, 2009) | Estimasi efek gabungan |
| Tinjauan integratif | Menyintesis literatur dari beragam desain untuk membangun konsep atau teori | Fleksibel, tetap perlu metode yang jelas | Kerangka konseptual |
Snyder (2019) menambahkan pandangan yang berguna bagi peneliti dengan sumber daya terbatas. Ia membedakan pendekatan sistematis, semi-sistematis, dan integratif. Pendekatan semi-sistematis cocok ketika topiknya luas dan beragam sehingga review sistematis penuh tidak layak, tetapi peneliti tetap ingin metode yang jelas dan dapat dijelaskan.
Memilih jenis review dari pertanyaannya
| Jika pertanyaan Anda berbunyi … | Jenis review yang lebih tepat |
|---|---|
| “Apa saja yang sudah diteliti tentang topik X, dan siapa serta bagaimana metodenya?” | Scoping review atau studi pemetaan |
| “Apakah intervensi X memengaruhi hasil Y berdasarkan bukti yang ada?” | SLR, dan meta-analisis bila datanya sebanding |
| “Metode apa yang paling sering dipakai untuk masalah X?” | Studi pemetaan atau SLR |
| “Bagaimana konsep X berkembang dan dipahami?” | Tinjauan integratif atau naratif terstruktur |
| “Apa temuan konsisten dan bertentangan tentang X?” | SLR dengan sintesis tematik atau naratif |
5. Pedoman Menurut Bidang
Setiap bidang memiliki pedoman yang berkembang dari kebutuhan dan tradisinya.
| Pedoman | Bidang/Kegunaan | Catatan |
|---|---|---|
| PRISMA 2020 (Page dkk., 2021) | Pelaporan review sistematis, luas dipakai lintas bidang | Berisi daftar periksa 27 butir dan diagram alir |
| PRISMA-ScR (Tricco dkk., 2018) | Pelaporan scoping review | Ekstensi PRISMA khusus scoping |
| Kitchenham dan Charters (2007) | Rekayasa perangkat lunak dan informatika | Pedoman metode SLR lengkap |
| Cochrane Handbook (Higgins dkk., 2019) | Review intervensi kesehatan | Sangat rinci, terutama untuk meta-analisis |
| Petticrew dan Roberts (2006) | Ilmu sosial, termasuk pendidikan | Pengantar praktis |
| Tranfield dkk. (2003) | Manajemen dan bisnis | Menyesuaikan pendekatan Cochrane |
PRISMA adalah pedoman pelaporan, bukan pedoman metode
Ini pembeda penting yang sering terlewat. PRISMA dirancang untuk membantu penulis melaporkan secara transparan mengapa review dilakukan, apa yang dikerjakan, dan apa yang ditemukan (Page dkk., 2021). PRISMA 2020 terdiri atas daftar periksa 27 butir, daftar periksa ekspansi, daftar periksa abstrak, dan templat diagram alir (PRISMA Statement, n.d.). Mengikuti PRISMA berarti Anda melaporkan proses Anda dengan lengkap. Namun kualitas proses itu sendiri, misalnya baik tidaknya strategi pencarian atau ketepatan kriteria, bergantung pada keputusan metodologis Anda. PRISMA tidak menjamin review Anda berkualitas hanya karena semua butirnya terisi.
Bidang Anda memakai yang mana?
- Pendidikan dan ilmu sosial: kombinasi PRISMA 2020 untuk pelaporan dan buku panduan seperti Petticrew dan Roberts (2006) untuk metode.
- Informatika dan sistem informasi: Kitchenham dan Charters (2007) untuk metode, dan PRISMA sebagai pelengkap pelaporan bila diminta.
- Kesehatan: Cochrane Handbook dan PRISMA.
Tanyakan kepada pembimbing pedoman mana yang diwajibkan atau diprioritaskan.
6. Kapan SLR Tepat, dan Kapan Tidak
| Kondisi | Saran |
|---|---|
| Sudah banyak studi tentang topik yang jelas, dan hasilnya perlu diintegrasikan | SLR tepat |
| Anda ingin mengetahui bukti tentang efek intervensi atau perbandingan metode | SLR tepat |
| Topik sangat baru dan studinya sedikit | Pertimbangkan scoping review atau tinjauan naratif; SLR akan sangat tipis |
| Pertanyaan terlalu luas (“bagaimana pembelajaran daring?”) | Persempit dulu, atau gunakan scoping review/pemetaan |
| Anda ingin membangun teori atau kerangka konseptual | Tinjauan integratif atau kritis |
| Anda ingin data lapangan yang baru | SLR bukan jawabannya; gunakan penelitian primer |
| Waktu dan tenaga sangat terbatas, sedangkan topik luas | Pertimbangkan pendekatan semi-sistematis dengan protokol yang jelas |
Pertanyaan pemeriksa sebelum memilih SLR
- Apakah saya punya pertanyaan spesifik yang dapat dijawab dari literatur?
- Apakah sudah ada cukup studi untuk disintesis, tetapi tidak terlalu banyak untuk dikerjakan sendirian?
- Apakah saya mampu mengakses artikelnya?
- Apakah saya bersedia mendokumentasikan setiap keputusan dengan disiplin?
- Apakah kampus dan pembimbing saya menerima SLR sebagai bentuk skripsi?
7. Beban Kerja yang Realistis
SLR sering dianggap “skripsi yang mudah karena tidak perlu ke lapangan”. Anggapan ini keliru. Kajian atas review sistematis yang terdaftar di PROSPERO melaporkan rata-rata sekitar 67 minggu dari pendaftaran sampai penyelesaian (Borah, Brown, Capers, & Kaiser, 2017). Angka itu berasal dari review medis skala penuh, dan SLR skripsi dengan ruang lingkup sempit tentu lebih singkat. Meski begitu, gambaran umumnya jelas: SLR padat pekerjaan dan menuntut ketelitian.
| Tahap | Beban | Alasan |
|---|---|---|
| Merumuskan pertanyaan dan protokol | Sedang | Membutuhkan banyak revisi sampai pertanyaan benar-benar fokus |
| Pencarian | Sedang | Menyusun dan menguji search string di beberapa database |
| Seleksi studi | Berat | Ratusan sampai ribuan rekaman harus disaring dua tahap |
| Penilaian kualitas dan ekstraksi data | Berat | Membaca teks lengkap dengan cermat |
| Sintesis | Sedang sampai berat | Menemukan pola dan menjelaskannya secara argumentatif |
| Penulisan dan pelaporan | Sedang | Diagram alir, tabel, dan pelaporan menyeluruh |
Prinsip dua penilai, dan mengakalinya bila Anda sendirian
Pedoman SLR umumnya menyarankan bahwa seleksi dan ekstraksi data dilakukan oleh lebih dari satu orang, atau setidaknya diperiksa oleh orang kedua, untuk mengurangi kesalahan dan bias. Pada skripsi yang dikerjakan sendiri, Anda dapat memitigasinya dengan:
- meminta dosen atau rekan menyeleksi sebagian sampel rekaman secara independen, lalu menghitung kesepakatan (misalnya koefisien kappa Cohen, 1960);
- mendokumentasikan alasan setiap keputusan agar dapat diperiksa;
- mengakui keterbatasan ini secara jujur di bagian pembahasan.
8. Contoh Kasus
Kasus A: bidang pendidikan
Ide mentah: “Saya mau mereview pembelajaran daring.”
Masalah: terlalu luas. Pembelajaran daring di jenjang apa? Aspek apa? Hasil apa?
Setelah dipersempit, pertanyaan review menjadi:
“Apa bukti dari penelitian tahun 2015–2025 tentang pengaruh media pembelajaran digital terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah?”Jenis review: SLR (karena menanyakan bukti pengaruh). Meta-analisis hanya dimungkinkan bila cukup banyak studi kuantitatif yang dapat dibandingkan. Bila studinya sedikit atau berbeda-beda, sintesis naratif atau tematik lebih realistis.
Catatan kelayakan: jika setelah pencarian awal ternyata hanya ditemukan segelintir studi yang relevan, pertimbangkan memperluas jenjang atau mata pelajaran, atau mengubahnya menjadi scoping review.
Kasus B: bidang informatika
Ide mentah: “Saya mau mereview metode pengembangan sistem informasi.”
Setelah dipersempit, pertanyaan review menjadi:
- RQ1: Metode pengembangan sistem apa yang digunakan pada penelitian sistem informasi akademik di Indonesia pada 2018–2025?
- RQ2: Platform teknologi apa yang paling sering dipakai?
- RQ3: Metode pengujian apa yang dipakai untuk mengevaluasi sistem?
Jenis review: studi pemetaan sistematis (karena tujuannya memetakan tren metode dan teknologi, bukan menilai efek), dengan pedoman Kitchenham dan Charters (2007) serta Petersen dkk. (2008).
9. SLR sebagai Skripsi
Sebagian program studi mengizinkan SLR sebagai bentuk skripsi, sebagian lain tidak, dan ada yang mensyaratkan ketentuan khusus. Struktur bab pun bervariasi. Sebagai gambaran umum, pemetaannya kurang lebih seperti berikut.
| Bagian | Isi pada skripsi SLR |
|---|---|
| Bab I. Pendahuluan | Latar belakang, pertanyaan review, tujuan, manfaat |
| Bab II. Landasan konsep | Konsep kunci topik dan penjelasan tentang SLR |
| Bab III. Metode | Protokol: pertanyaan (PICO atau kerangka lain), sumber pencarian, search string, kriteria inklusi dan eksklusi, prosedur seleksi, penilaian kualitas, ekstraksi data, dan metode sintesis |
| Bab IV. Hasil dan pembahasan | Diagram alir PRISMA, karakteristik studi, hasil per pertanyaan review, sintesis, dan pembahasan |
| Bab V. Penutup | Kesimpulan yang menjawab pertanyaan review, keterbatasan, dan saran |
Pertanyaan yang perlu Anda ajukan ke kampus dan pembimbing
- Apakah SLR diterima sebagai bentuk skripsi di program studi ini?
- Pedoman mana yang dipakai (PRISMA, Kitchenham, atau lainnya)?
- Adakah ketentuan minimal jumlah database, rentang tahun, atau jumlah studi?
- Apakah pembimbing berpengalaman dengan SLR? Bila tidak, siapa yang dapat membantu memeriksa?
- Apakah diperlukan pendaftaran protokol atau izin tertentu?
10. Etika dan Integritas dalam SLR
- Jangan memilih studi secara selektif (cherry-picking) hanya karena hasilnya sesuai harapan Anda. Kriteria harus ditetapkan sebelum melihat hasil.
- Laporkan seluruh proses, termasuk pencarian yang kurang berhasil dan alasan pengecualian.
- Waspadai bias publikasi. Studi dengan hasil yang menarik cenderung lebih mudah dipublikasikan, sehingga review yang hanya memakai artikel terbit dapat memberi gambaran yang terlalu positif. Pertimbangkan sumber lain seperti prosiding, laporan, dan literatur abu-abu bila sesuai.
- Kutip dengan benar. Semua studi yang dirujuk harus dikutip, dan sumbernya harus benar-benar Anda temukan dan baca. Peringatan tentang rujukan buatan AI yang tidak dapat diverifikasi dibahas di artikel tentang mencari jurnal referensi dan berlaku sepenuhnya di sini.
- Bila memakai alat berbasis AI untuk membantu penyaringan atau peringkasan, verifikasi hasilnya sendiri dan catat penggunaannya sesuai ketentuan kampus dan jurnal.
11. Sekilas tentang Registrasi Protokol dan Alat Bantu
Protokol adalah dokumen rencana review yang ditulis sebelum pencarian dan seleksi dimulai. Tujuannya membatasi perubahan diam-diam yang dapat menimbulkan bias. Beberapa peneliti juga mendaftarkan protokolnya pada registri publik.
- PROSPERO dikelola oleh Centre for Reviews and Dissemination, University of York. Registri ini menerima protokol review sistematis yang memiliki luaran terkait kesehatan manusia, dan tidak menerima antara lain scoping review serta tinjauan pustaka yang hanya memakai pencarian sistematis tanpa metode review sistematis lainnya (Centre for Reviews and Dissemination, n.d.). Karena itu, SLR pendidikan atau informatika yang tidak memiliki luaran kesehatan umumnya tidak memenuhi syarat. Pendaftaran juga harus dilakukan sebelum ekstraksi data dimulai.
- OSF Registries dari Center for Open Science menerima registrasi lintas disiplin dan berbagai jenis penelitian, sehingga sering menjadi alternatif untuk bidang non-kesehatan.
Registrasi bersifat opsional untuk sebagian besar skripsi, tetapi protokol tertulis tetap sangat dianjurkan. Rincian penyusunan protokol dibahas di Part 2.
Untuk alat bantu, Anda akan memakai pengelola referensi (misalnya Zotero, yang juga dapat mendeteksi duplikat) dan lembar kerja untuk pencatatan. Tersedia pula alat khusus penyaringan seperti Rayyan, yang menyediakan paket gratis dengan batasan jumlah review dan pengguna. Ketentuannya dapat berubah, jadi periksa laman resminya. Pembahasan alat akan muncul pada bagian seleksi studi.
12. Sepuluh Kesalahan yang Paling Sering Terjadi
- Menyebut “SLR” untuk ringkasan puluhan jurnal tanpa protokol dan kriteria.
- Pertanyaan review terlalu luas, sehingga hasil pencarian tidak terkelola.
- Menetapkan jumlah artikel sebelum seleksi (“saya akan pakai 30 jurnal”). Jumlah studi adalah hasil seleksi, bukan target.
- Mencari di satu database saja tanpa alasan.
- Kriteria inklusi dan eksklusi dibuat setelah melihat hasil.
- Tidak melaporkan diagram alir seleksi dan alasan eksklusi.
- Mengabaikan penilaian kualitas studi, sehingga studi lemah dan kuat diperlakukan sama.
- Mengira PRISMA menjamin mutu. PRISMA hanya pedoman pelaporan.
- Tidak ada sintesis, hanya daftar ringkasan tiap studi.
- Memilih SLR karena menganggap paling mudah, bukan karena sesuai dengan pertanyaan penelitian.
13. Latihan
Soal 1. Tentukan jenis review yang paling sesuai: (a) “Apa saja topik dan metode yang diteliti tentang literasi digital guru di Indonesia selama lima tahun terakhir?” (b) “Apakah metode pembelajaran berbasis proyek meningkatkan hasil belajar siswa SD berdasarkan bukti yang ada?” (c) “Bagaimana konsep kemandirian belajar didefinisikan dalam berbagai teori?”
Soal 2. Persempit topik “media sosial dan pendidikan” menjadi satu pertanyaan review yang terfokus.
Soal 3. Tulis tiga pertanyaan yang akan Anda ajukan kepada pembimbing sebelum memutuskan memakai SLR sebagai skripsi.
Jawaban.
- (a) Scoping review atau studi pemetaan, karena tujuannya memetakan topik dan metode. (b) SLR, dengan kemungkinan meta-analisis bila datanya sebanding, karena menanyakan bukti tentang efek. (c) Tinjauan integratif atau naratif terstruktur, karena tujuannya memahami konsep dan teori.
- Contoh: “Apa bukti dari penelitian 2018–2025 tentang pengaruh intensitas penggunaan media sosial terhadap motivasi belajar siswa sekolah menengah pertama?” Topik luas dipersempit pada aspek (intensitas penggunaan), luaran (motivasi belajar), jenjang (SMP), dan periode (2018–2025).
- Contoh: (i) “Apakah SLR diterima sebagai bentuk skripsi di program studi ini, dan apa ketentuan khususnya?” (ii) “Pedoman mana yang harus saya pakai, dan adakah ketentuan minimal database atau rentang tahun?” (iii) “Bila saya mengerjakan sendirian, bagaimana Bapak/Ibu ingin proses seleksi dan ekstraksi data saya diverifikasi?”
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa bedanya SLR dengan tinjauan pustaka di Bab II? Tinjauan pustaka di Bab II membangun landasan bagi penelitian lain dan biasanya bersifat naratif. SLR merupakan penelitian tersendiri dengan pertanyaan, protokol, pencarian sistematis, seleksi transparan, dan sintesis.
Berapa jumlah artikel yang harus dimasukkan dalam SLR? Tidak ada angka baku yang berlaku umum. Jumlah studi ditentukan oleh hasil seleksi berdasarkan kriteria Anda. Jangan menetapkan targetnya lebih dulu. Bila kampus Anda menetapkan ketentuan minimal, ikuti dan sesuaikan ruang lingkup pertanyaan.
Bolehkah SLR dikerjakan sendirian? Bisa, tetapi dengan keterbatasan. Mitigasinya antara lain meminta pihak kedua menyeleksi sebagian sampel, mendokumentasikan alasan setiap keputusan, dan mengakui keterbatasan ini secara terbuka.
Apakah SLR harus memakai PRISMA? PRISMA sangat luas dipakai untuk pelaporan, tetapi bukan satu-satunya pedoman. Di bidang informatika, pedoman Kitchenham dan Charters umum dipakai. Ikuti pedoman yang ditetapkan program studi Anda.
Rangkuman
- SLR adalah penelitian sekunder yang mengidentifikasi, menilai, dan menyintesis bukti yang relevan secara sistematis, transparan, dan dapat direplikasi.
- SLR berbeda dari tinjauan pustaka biasa. SLR memiliki pertanyaan sempit, protokol, pencarian komprehensif, kriteria eksplisit, penilaian kualitas, dan sintesis.
- Kenali jenis review lain: scoping review, studi pemetaan, meta-analisis, dan tinjauan integratif. Pilih berdasarkan pertanyaan Anda.
- PRISMA 2020 adalah pedoman pelaporan, bukan pedoman metode. Bidang informatika juga memakai pedoman Kitchenham dan Charters.
- SLR tidak mudah. Seleksi dan ekstraksi data adalah tahap terberat, dan sebaiknya diverifikasi pihak kedua.
- Untuk registrasi protokol, PROSPERO hanya untuk luaran kesehatan, dan OSF Registries sering menjadi alternatif. Protokol tertulis tetap dianjurkan.
- Selalu cocokkan dengan aturan kampus dan arahan pembimbing.
Pertanyaan Refleksi
- Apa pertanyaan review Anda, dan apakah ia cukup sempit untuk dijawab dari literatur?
- Apakah studi yang tersedia cukup untuk disintesis, tetapi tidak terlalu banyak untuk Anda tangani?
- Siapa yang dapat membantu Anda memverifikasi proses seleksi dan ekstraksi data?
- Apakah SLR benar-benar jenis penelitian yang paling sesuai untuk masalah Anda?
Peta Seri (Rencana)
| Bagian | Topik |
|---|---|
| Part 1 | Apa itu SLR, jenis review, dan kapan dibutuhkan (artikel ini) |
| Part 2 | Merumuskan pertanyaan review dan menyusun protokol (PICO, PICOC, SPIDER) |
| Part 3 | Strategi pencarian sistematis: database, kata kunci, dan search string |
| Part 4 | Kriteria inklusi dan eksklusi, seleksi studi, dan diagram alir PRISMA |
| Part 5 | Penilaian kualitas studi dan ekstraksi data |
| Part 6 | Sintesis: naratif, tematik, dan pengantar meta-analisis |
| Part 7 | Menyajikan hasil: tabel, diagram, dan peta |
| Part 8 | Menulis laporan SLR: struktur, PRISMA 2020, dan bahasa akademik |
| Part 9 | SLR sebagai skripsi dan publikasi |
| Part 10 | Kesalahan umum dan daftar periksa mutu |
Rencana ini dapat berubah seiring perkembangan seri.
Artikel Terkait
- Cara Mencari Jurnal Referensi untuk Skripsi
- Cara Menyusun Judul Skripsi yang Layak
- Part 2 seri Metodologi: Jenis-Jenis Penelitian dan Cara Menentukannya
Daftar Pustaka
Arksey, H., & O’Malley, L. (2005). Scoping studies: Towards a methodological framework. International Journal of Social Research Methodology, 8(1), 19–32.
Borah, R., Brown, A. W., Capers, P. L., & Kaiser, K. A. (2017). Analysis of the time and workers needed to conduct systematic reviews of medical interventions using data from the PROSPERO registry. BMJ Open, 7(2), Article e012545.
Borenstein, M., Hedges, L. V., Higgins, J. P. T., & Rothstein, H. R. (2009). Introduction to meta-analysis. Wiley.
Centre for Reviews and Dissemination. (n.d.). PROSPERO: Inclusion criteria. University of York. https://www.crd.york.ac.uk/prospero/AboutPROSPERO/InclusionCriteria.php
Cohen, J. (1960). A coefficient of agreement for nominal scales. Educational and Psychological Measurement, 20(1), 37–46.
Grant, M. J., & Booth, A. (2009). A typology of reviews: An analysis of 14 review types and associated methodologies. Health Information and Libraries Journal, 26(2), 91–108.
Higgins, J. P. T., Thomas, J., Chandler, J., Cumpston, M., Li, T., Page, M. J., & Welch, V. A. (Eds.). (2019). Cochrane handbook for systematic reviews of interventions (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
Kitchenham, B., & Charters, S. (2007). Guidelines for performing systematic literature reviews in software engineering (Version 2.3; EBSE Technical Report EBSE-2007-01). Keele University and University of Durham.
Page, M. J., McKenzie, J. E., Bossuyt, P. M., Boutron, I., Hoffmann, T. C., Mulrow, C. D., … Moher, D. (2021). The PRISMA 2020 statement: An updated guideline for reporting systematic reviews. BMJ, 372, Article n71. https://doi.org/10.1136/bmj.n71
Petersen, K., Feldt, R., Mujtaba, S., & Mattsson, M. (2008). Systematic mapping studies in software engineering. Proceedings of the 12th International Conference on Evaluation and Assessment in Software Engineering, 68–77.
Petticrew, M., & Roberts, H. (2006). Systematic reviews in the social sciences: A practical guide. Blackwell.
PRISMA Statement. (n.d.). PRISMA 2020 statement. https://www.prisma-statement.org/prisma-2020-statement
Snyder, H. (2019). Literature review as a research methodology: An overview and guidelines. Journal of Business Research, 104, 333–339.
Tranfield, D., Denyer, D., & Smart, P. (2003). Towards a methodology for developing evidence-informed management knowledge by means of systematic review. British Journal of Management, 14(3), 207–222.
Tricco, A. C., Lillie, E., Zarin, W., O’Brien, K. K., Colquhoun, H., Levac, D., … Straus, S. E. (2018). PRISMA extension for scoping reviews (PRISMA-ScR): Checklist and explanation. Annals of Internal Medicine, 169(7), 467–473.
Catatan: daftar penulis pada beberapa rujukan (Page dkk., 2021; Tricco dkk., 2018) dipersingkat; lihat sumber aslinya untuk daftar lengkap. Informasi tentang PROSPERO, PRISMA, dan alat bantu diperiksa pada 29 September 2026 dan dapat berubah.