Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian: Dari Indikator ke Butir Pertanyaan
Panduan memilih angket, tes, observasi, wawancara, dokumentasi; menyusun kisi-kisi dan instrumen; uji validitas dan reliabilitas dengan contoh hitungan.
Pendahuluan
Seorang mahasiswa menyerahkan angket 40 butir yang ia unduh dari sebuah situs. Setelah uji coba, koefisien reliabilitasnya tinggi, dan ia dengan bangga melaporkannya. Namun ketika dosen membuka butir-butirnya, sebagian besar berbicara tentang kedisiplinan, padahal variabel skripsinya adalah motivasi belajar. Angketnya konsisten, tetapi mengukur hal yang salah.
Kejadian seperti ini menunjukkan bahwa instrumen bukan sekadar daftar pertanyaan. Instrumen adalah jembatan antara konsep di Bab II dan data di Bab IV. Jika jembatannya salah, seluruh analisis setelahnya, secanggih apa pun, tidak menjawab masalah penelitian.
Artikel ini adalah Part 4 dari seri Belajar Metodologi Penelitian. Setelah membahas jenis penelitian dan subjeknya, kita masuk ke pertanyaan berikutnya: data apa yang dibutuhkan, dikumpulkan dengan cara apa, dan bagaimana memastikan alat ukurnya baik.
Catatan tentang contoh. Nama sekolah, angka, dan data pada contoh di artikel ini bersifat ilustrasi. Data pada contoh perhitungan sengaja dibuat sangat kecil supaya langkahnya mudah diikuti. Pada penelitian nyata, ukuran uji coba jauh lebih besar.
Setelah membaca artikel ini, Anda diharapkan mampu:
- membedakan data, teknik pengumpulan data, dan instrumen;
- memilih teknik yang sesuai dengan pertanyaan penelitian;
- menurunkan kisi-kisi dan butir dari variabel dan indikator;
- menyusun angket, tes, rubrik, lembar observasi, dan pedoman wawancara;
- menguji validitas dan reliabilitas instrumen kuantitatif dengan contoh hitungan;
- menjaga keabsahan data kualitatif dan menuliskannya di Bab III.
1. Data, Teknik, dan Instrumen
1.1 Tiga istilah yang sering tertukar
| Istilah | Pengertian | Contoh |
|---|---|---|
| Data | Bahan keterangan yang dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan penelitian | Skor motivasi, transkrip wawancara |
| Teknik pengumpulan data | Cara memperoleh data | Angket, tes, observasi, wawancara, dokumentasi |
| Instrumen | Alat yang dipakai saat menerapkan teknik | Lembar angket, soal tes, rubrik, lembar observasi, pedoman wawancara |
Sugiyono (2019) membedakan data primer, yang dikumpulkan langsung dari sumbernya, dan data sekunder, yang berasal dari pihak lain seperti dokumen atau arsip. Pada penelitian kualitatif, Sugiyono (2019) dan Moleong (2017) menegaskan bahwa peneliti sendiri adalah instrumen kunci. Pedoman wawancara dan lembar observasi berfungsi sebagai alat bantu, sedangkan pengumpul dan penafsir data utamanya adalah peneliti.
1.2 Alur berpikirnya
Pertanyaan penelitian → Data yang dibutuhkan → Teknik → Instrumen → Uji kualitas instrumen
Sebagaimana dibahas pada Part 2, pertanyaan penelitianlah yang menentukan jenis data. Pertanyaan “seberapa tinggi?” membutuhkan data angka, sedangkan pertanyaan “bagaimana?” membutuhkan data narasi.
1.3 Tingkat pengukuran data
Stevens (1946) membedakan empat tingkat pengukuran yang menentukan analisis apa yang layak: nominal (kategori, misalnya jenis kelamin), ordinal (berurutan, misalnya peringkat), interval (jarak sama, tanpa nol mutlak), dan rasio (jarak sama dengan nol mutlak, misalnya jumlah jam belajar). Tingkat pengukuran memengaruhi pilihan uji statistik pada bagian analisis data di seri berikutnya.
2. Lima Teknik Utama: Kapan Memakai yang Mana?
| Teknik | Cocok untuk | Kelebihan | Keterbatasan | Instrumen |
|---|---|---|---|---|
| Angket (kuesioner) | Mengukur sikap, persepsi, kebiasaan pada banyak responden | Efisien, seragam, mudah dianalisis | Bergantung kejujuran dan pemahaman responden; tidak menggali alasan | Lembar angket |
| Tes | Mengukur pengetahuan, kemampuan, atau capaian belajar | Objektif jika dirancang baik | Butuh penyusunan dan uji butir yang cermat | Soal tes, rubrik penilaian |
| Observasi | Mengamati perilaku dan proses secara langsung | Menangkap apa yang benar-benar terjadi | Bergantung pengamat; memakan waktu | Lembar observasi, catatan lapangan |
| Wawancara | Menggali pengalaman, makna, alasan | Mendalam dan fleksibel | Subjektif, lama, perlu transkripsi | Pedoman wawancara |
| Dokumentasi | Mengumpulkan bukti tertulis atau visual | Stabil, dapat diperiksa ulang | Belum tentu lengkap atau mutakhir | Lembar telaah dokumen |
Pemetaan jenis penelitian ke teknik
| Jenis penelitian | Teknik yang lazim |
|---|---|
| Kuantitatif deskriptif dan korelasional | Angket, tes |
| Kuasi-eksperimen | Tes (pretest dan posttest), rubrik praktik, kadang angket |
| Kualitatif deskriptif, studi kasus | Wawancara, observasi, dokumentasi |
| Fenomenologi | Wawancara mendalam |
| Etnografi | Observasi partisipan, catatan lapangan |
| PTK | Observasi, tes atau rubrik, catatan refleksi |
| Evaluasi program | Kombinasi angket, wawancara, observasi, dokumentasi |
Kombinasi dan triangulasi
Penggunaan beberapa teknik untuk satu fokus yang sama disebut triangulasi teknik. Yin (2018) menyebut studi kasus yang baik memanfaatkan beberapa sumber bukti, misalnya dokumen, wawancara, observasi langsung, dan artefak. Gagasan di baliknya sederhana: satu sumber bisa keliru atau bias, tetapi bila beberapa sumber yang berbeda menunjuk ke kesimpulan yang sama, kepercayaan terhadap temuan meningkat (Lincoln & Guba, 1985; Patton, 2015).
3. Dari Variabel ke Butir: Menyusun Kisi-Kisi
Kesalahan pada pembuka artikel ini terjadi karena butir tidak diturunkan dari konsep. Cara menghindarinya adalah menyusun instrumen secara berjenjang.
Teori (Bab II) → Definisi konseptual → Definisi operasional
→ Dimensi/indikator → Kisi-kisi → Butir instrumen
| Langkah | Penjelasan |
|---|---|
| 1. Teori | Pilih teori atau konsep yang menjadi landasan variabel di Bab II |
| 2. Definisi konseptual | Arti variabel menurut teori |
| 3. Definisi operasional | Bagaimana variabel diukur dalam penelitian ini |
| 4. Indikator | Ciri-ciri yang dapat diamati atau dilaporkan yang mewakili variabel |
| 5. Kisi-kisi | Tabel yang memetakan indikator ke nomor butir |
| 6. Butir | Pernyataan atau pertanyaan yang benar-benar dibaca responden |
Contoh kasus: motivasi belajar PAI
Variabel: motivasi belajar PAI siswa kelas V.
Definisi operasional: skor total angket 15 butir dengan skala 1 sampai 5 yang mengukur lima indikator motivasi belajar; semakin tinggi skor, semakin tinggi motivasi.
Catatan: indikator di bawah bersifat ilustrasi. Pada penelitian nyata, indikator harus diturunkan dari teori motivasi belajar yang Anda pilih pada Bab II, bukan dari contoh ini.
Kisi-kisi:
| No | Indikator | Butir favorable (+) | Butir unfavorable (−) | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Keinginan berhasil dalam belajar PAI | 1, 2 | 3 | 3 |
| 2 | Dorongan dan kebutuhan belajar | 4, 5 | 6 | 3 |
| 3 | Harapan dan cita-cita | 7, 8 | 9 | 3 |
| 4 | Ketertarikan pada kegiatan belajar | 10, 11 | 12 | 3 |
| 5 | Lingkungan belajar yang mendukung | 13, 14 | 15 | 3 |
| Total | 10 | 5 | 15 |
Contoh butir:
| No | Pernyataan | Arah |
|---|---|---|
| 1 | Saya ingin mendapat nilai baik pada pelajaran PAI. | Favorable (+) |
| 3 | Saya tidak peduli dengan nilai PAI saya. | Unfavorable (−) |
| 10 | Saya senang mengikuti kegiatan belajar PAI di kelas. | Favorable (+) |
| 12 | Saya merasa bosan ketika pelajaran PAI dimulai. | Unfavorable (−) |
Butir favorable menyatakan indikator secara positif, sedangkan butir unfavorable menyatakannya secara negatif. Keduanya dipakai supaya responden tidak menjawab secara asal-asalan dengan pola yang sama.
4. Angket (Kuesioner)
4.1 Jenis dan skala
Angket dapat tertutup (responden memilih jawaban yang tersedia), terbuka (responden menulis jawaban sendiri), atau gabungan. Untuk penelitian kuantitatif, angket tertutup lebih mudah dianalisis.
Sugiyono (2019) menguraikan beberapa bentuk skala pengukuran sikap, antara lain skala Likert, skala Guttman, dan semantic differential. Skala Likert, yang dikembangkan oleh Likert (1932), meminta responden menyatakan tingkat persetujuan terhadap pernyataan.
| Pilihan jawaban | Skor butir favorable | Skor butir unfavorable |
|---|---|---|
| Sangat setuju (SS) | 5 | 1 |
| Setuju (S) | 4 | 2 |
| Ragu-ragu (RR) | 3 | 3 |
| Tidak setuju (TS) | 2 | 4 |
| Sangat tidak setuju (STS) | 1 | 5 |
Skor butir unfavorable dibalik sebelum dijumlahkan. Lupa membalik skor adalah kesalahan olah data yang sering terjadi.
Catatan tentang analisis skala Likert. Ada perdebatan lama tentang apakah data Likert bersifat ordinal atau boleh diperlakukan sebagai interval. Norman (2010) memberikan argumen bahwa untuk skor total dari banyak butir, analisis parametrik umumnya cukup kokoh. Meski demikian, pilihan analisis harus dijelaskan dan dipertanggungjawabkan.
4.2 Enam aturan menulis butir yang baik
| Aturan | Contoh butir buruk | Perbaikan |
|---|---|---|
| Satu gagasan per butir | “Guru PAI menarik dan mudah dipahami.” (dua hal sekaligus) | Pisahkan: “Guru PAI menarik.” dan “Penjelasan guru PAI mudah saya pahami.” |
| Tidak mengarahkan jawaban | “Bukankah gawai sangat mengganggu belajar Anda?” | “Saya sulit fokus belajar saat gawai ada di dekat saya.” |
| Hindari negasi ganda | “Saya tidak setuju bahwa tidak belajar itu baik.” | “Belajar setiap hari itu penting bagi saya.” |
| Hindari kata mutlak | “Saya selalu belajar tanpa disuruh.” | Gunakan skala frekuensi, atau kalimat yang tidak mutlak |
| Bahasa sesuai responden | “Saya memiliki aspirasi akademik yang tinggi.” (untuk siswa SD) | “Saya ingin menjadi murid yang pintar.” |
| Terkait langsung dengan indikator | Butir tentang hobi pada angket motivasi belajar | Hapus atau ganti dengan butir yang mengukur indikator |
4.3 Bias yang perlu diwaspadai
Responden cenderung menjawab agar terlihat baik (bias keinginan sosial) atau menjawab dengan pola yang sama tanpa membaca (bias respons). Podsakoff, MacKenzie, Lee, dan Podsakoff (2003) mengulas berbagai sumber bias metode dalam penelitian perilaku. Beberapa cara mengurangi risikonya: jaminkan kerahasiaan, pakai butir favorable dan unfavorable, buat angket tidak terlalu panjang, dan gunakan bahasa sederhana.
Khusus untuk siswa sekolah dasar. Batasi jumlah butir, gunakan kalimat pendek, dan pertimbangkan pilihan jawaban yang lebih sedikit. Bacakan petunjuk dengan jelas dan dampingi saat pengisian. Uji coba terhadap beberapa anak untuk memastikan setiap butir dipahami.
5. Tes dan Rubrik
5.1 Kisi-kisi tes
Tes hasil belajar dirancang dari kompetensi atau tujuan pembelajaran yang diukur. Kisi-kisi memetakan materi, indikator soal, tingkat kognitif, bentuk soal, dan nomor butir. Untuk tingkat kognitif, taksonomi Anderson dan Krathwohl (2001), yang merevisi taksonomi Bloom, membedakan proses kognitif mulai dari mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta.
| Materi | Indikator soal | Tingkat kognitif | Bentuk | No. butir |
|---|---|---|---|---|
| Thaharah | Menyebutkan jenis-jenis air untuk bersuci | Mengingat | Pilihan ganda | 1, 2 |
| Thaharah | Menjelaskan tata cara wudu | Memahami | Pilihan ganda | 3, 4 |
| Thaharah | Menentukan tindakan yang tepat pada situasi tertentu | Menerapkan | Uraian singkat | 5 |
5.2 Analisis butir tes: tingkat kesukaran dan daya pembeda
Setelah diuji coba, butir soal dianalisis. Dua ukuran dasar yang lazim dipakai dalam buku pengukuran pendidikan di Indonesia (Arikunto, 2013):
Tingkat kesukaran (P) = jumlah peserta yang menjawab benar / jumlah seluruh peserta
Daya pembeda (D) = proporsi benar kelompok atas − proporsi benar kelompok bawah
| Tingkat kesukaran (P) | Kategori |
|---|---|
| 0,00 sampai 0,30 | Sukar |
| 0,31 sampai 0,70 | Sedang |
| 0,71 sampai 1,00 | Mudah |
| Daya pembeda (D) | Kategori |
|---|---|
| 0,00 sampai 0,20 | Jelek |
| 0,21 sampai 0,40 | Cukup |
| 0,41 sampai 0,70 | Baik |
| 0,71 sampai 1,00 | Baik sekali |
Contoh perhitungan. Uji coba soal pada 30 siswa. Siswa diurutkan menurut skor total, lalu diambil 27% teratas (8 siswa) dan 27% terbawah (8 siswa). Pada butir nomor 5, 7 siswa kelompok atas dan 3 siswa kelompok bawah menjawab benar.
- P = (7 + 3) / 16 = 0,625, termasuk kategori sedang.
- D = (7 − 3) / 8 = 0,50, termasuk kategori baik.
Butir ini layak dipertahankan.
5.3 Rubrik untuk penilaian kinerja
Kemampuan praktik, keterampilan, atau produk tidak cukup diukur dengan pilihan ganda. Untuk itu dipakai rubrik, yaitu pedoman penilaian yang menjelaskan kriteria dan tingkat capaian. Brookhart (2013) menekankan bahwa rubrik yang baik memiliki kriteria yang jelas dan deskripsi tingkat yang dapat dibedakan.
Contoh rubrik (ilustratif) untuk praktik salat siswa kelas V.
| Kriteria | Skor 4 | Skor 3 | Skor 2 | Skor 1 |
|---|---|---|---|---|
| Urutan gerakan | Seluruh urutan benar tanpa bantuan | Satu kesalahan kecil pada urutan | Beberapa kesalahan urutan | Banyak kesalahan atau perlu dibimbing terus |
| Ketepatan posisi gerakan | Semua posisi tepat | Sebagian besar tepat | Sebagian tepat, sebagian keliru | Sebagian besar keliru |
| Ketertiban dan ketenangan | Tertib dan tenang sepanjang praktik | Tertib dengan sedikit terburu-buru | Kurang tenang di beberapa bagian | Terburu-buru atau tidak tertib |
| Ketepatan bacaan | Semua bacaan tepat dan lancar | Sedikit kesalahan | Banyak kesalahan | Sebagian besar keliru |
Agar penilaian konsisten, penilai sebaiknya dilatih menggunakan rubrik yang sama. Bila ada dua penilai, hitung kesesuaiannya (bagian 6.3).
6. Observasi
6.1 Jenis observasi
Observasi dapat terstruktur (memakai daftar indikator yang sudah ditetapkan) atau tidak terstruktur (mencatat apa saja yang relevan secara terbuka). Berdasarkan peran peneliti, ada observasi partisipan, ketika peneliti ikut terlibat dalam kegiatan, dan nonpartisipan, ketika peneliti hanya mengamati (Spradley, 1980; Sugiyono, 2019).
6.2 Lembar observasi
Observasi tanpa indikator sering menghasilkan catatan yang panjang tetapi tidak dapat dianalisis. Turunkan indikator dari fokus penelitian.
Contoh (lembar observasi terstruktur): penerapan metode demonstrasi.
| No | Indikator yang diamati | Terlihat | Tidak terlihat | Catatan lapangan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Guru menyiapkan peraga atau contoh sebelum praktik | |||
| 2 | Guru mencontohkan gerakan secara bertahap | |||
| 3 | Siswa memperhatikan saat guru mendemonstrasikan | |||
| 4 | Siswa mempraktikkan gerakan setelah demonstrasi | |||
| 5 | Guru memberi umpan balik terhadap praktik siswa |
Selain lembar terstruktur, tulislah catatan lapangan yang mencatat konteks, suasana, kejadian tak terduga, dan refleksi peneliti pada hari itu. Pada etnografi dan studi kasus, catatan lapangan sering menjadi data paling kaya (Spradley, 1980).
6.3 Konsistensi antarpengamat
Jika lebih dari satu orang mengamati, periksa seberapa sepakat mereka. Cara paling sederhana adalah persentase kesepakatan:
Kesepakatan (%) = jumlah penilaian yang sama / jumlah seluruh penilaian × 100
Contoh. Dua pengamat menilai 20 indikator. Mereka sepakat pada 17 indikator, sehingga kesepakatannya 17 / 20 × 100 = 85%.
Bila ingin memperhitungkan kesepakatan yang terjadi karena kebetulan, gunakan koefisien kappa dari Cohen (1960).
7. Wawancara
7.1 Tingkat keterstrukturan
Wawancara dapat terstruktur (pertanyaan baku dan berurutan), semiterstruktur (ada pedoman, tetapi urutan dan pendalaman fleksibel), atau tidak terstruktur (percakapan bebas dengan topik umum). Pada penelitian kualitatif pendidikan, wawancara semiterstruktur paling umum karena memberi arah sekaligus ruang menggali (Patton, 2015; Kvale & Brinkmann, 2015).
7.2 Jenis pertanyaan dan penggalian
Patton (2015) membedakan beberapa jenis pertanyaan: tentang pengalaman dan perilaku, pendapat dan nilai, perasaan, pengetahuan, indra, serta latar belakang. Untuk memperoleh data yang kaya, gabungkan pertanyaan utama dengan pertanyaan penggali (probing), misalnya “Bisa diceritakan contohnya?” atau “Apa yang terjadi setelah itu?”.
7.3 Pedoman wawancara
Contoh (pedoman wawancara semiterstruktur untuk guru PAI): penerapan metode demonstrasi.
| Fokus | Pertanyaan utama | Pertanyaan penggali |
|---|---|---|
| Perencanaan | Bagaimana Bapak/Ibu merencanakan pembelajaran praktik salat dengan metode demonstrasi? | Apa saja yang disiapkan? Mengapa memilih cara itu? |
| Pelaksanaan | Coba ceritakan bagaimana demonstrasi dilakukan di kelas dari awal sampai akhir. | Bagaimana Bapak/Ibu mengetahui siswa mengikuti dengan baik? |
| Kendala | Hambatan apa yang paling sering muncul? | Bisa diceritakan kejadian terakhir yang Bapak/Ibu ingat? |
| Solusi | Bagaimana cara Bapak/Ibu mengatasinya? | Mana yang paling berhasil, dan mengapa? |
Untuk wawancara dengan siswa SD, gunakan bahasa yang akrab, misalnya “Apa yang kamu suka ketika Bu Guru mencontohkan gerakan salat?” Hindari pertanyaan yang terasa seperti ujian. Lakukan di tempat yang nyaman, dan pastikan izin sekolah serta orang tua sudah diperoleh (lihat bagian 10).
7.4 Praktik yang baik
- Beri tahu tujuan wawancara dan minta izin untuk merekam.
- Ajukan pertanyaan terbuka, dan hindari pertanyaan yang mengarahkan jawaban.
- Dengarkan lebih banyak daripada berbicara.
- Buat transkrip secepatnya setelah wawancara, dan simpan rekaman dengan aman.
- Lakukan uji coba wawancara untuk memeriksa apakah pertanyaan dipahami dan urutannya wajar.
8. Dokumentasi
Dokumentasi mencakup dokumen tertulis (rencana pembelajaran, nilai, notulen, peraturan sekolah), arsip, foto, dan rekaman. Sumber ini berguna karena stabil dan dapat diperiksa ulang, dan sering berfungsi sebagai pembanding bagi data wawancara atau observasi (Yin, 2018).
Beberapa pertanyaan pemeriksaan: Apakah dokumen itu asli dan resmi? Untuk keperluan apa dibuat? Apakah masih berlaku? Dokumentasi berupa foto atau video yang menampilkan orang, terutama anak-anak, harus mengikuti aturan izin dan kerahasiaan.
9. Kualitas Instrumen Kuantitatif: Validitas dan Reliabilitas
9.1 Dua pertanyaan pokok
- Validitas: apakah instrumen benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur?
- Reliabilitas: apakah instrumen memberi hasil yang konsisten bila dipakai berulang pada kondisi serupa?
Instrumen yang reliabel belum tentu valid, seperti angket pada pembuka artikel ini: konsisten, tetapi mengukur hal yang salah. Sebaliknya, instrumen yang tidak reliabel tidak mungkin valid.
9.2 Validitas isi dengan penilaian ahli
Validitas isi diperiksa dengan meminta beberapa ahli menilai apakah butir sesuai dengan indikator dan variabel. Salah satu ukuran yang banyak dipakai adalah koefisien V dari Aiken (Aiken, 1985):
V = Σs / [n × (c − 1)]
s = skor penilaian − skor terendah pada skala
n = jumlah penilai
c = jumlah kategori pada skala penilaian
Contoh perhitungan. Lima ahli menilai satu butir dengan skala 1 sampai 4 dan memberi skor 4, 4, 3, 4, 4.
- s = 3, 3, 2, 3, 3, sehingga Σs = 14.
- V = 14 / [5 × (4 − 1)] = 14 / 15 = 0,93.
Nilai V berkisar dari 0 sampai 1, dan makin mendekati 1 makin tinggi kesepakatan ahli bahwa butir relevan. Untuk menentukan apakah nilai itu memadai, bandingkan dengan nilai kritis pada artikel Aiken (1985) atau ambang yang ditetapkan pedoman kampus Anda.
Alternatif lain adalah Content Validity Ratio dari Lawshe (1975), dengan rumus CVR = (n_e − N/2) / (N/2), di mana n_e adalah jumlah ahli yang menilai butir “esensial” dan N adalah jumlah seluruh ahli. Misalnya dari 10 ahli, 9 menilai esensial, sehingga CVR = (9 − 5) / 5 = 0,80.
Ahli yang dipilih sebaiknya benar-benar menguasai bidang isi dan pengukuran. Setelah penilaian, perbaiki butir sesuai masukan mereka.
9.3 Uji coba dan validitas butir
Setelah divalidasi ahli, instrumen diuji coba pada responden yang karakteristiknya mirip dengan sampel penelitian tetapi bukan sampel penelitian itu sendiri. Pedoman praktis yang sering dipakai adalah sekitar 30 responden uji coba (Sugiyono, 2019).
Validitas butir sering diperiksa dengan korelasi Pearson antara skor butir dan skor total (korelasi butir-total). Butir dianggap valid bila koefisien korelasinya lebih besar daripada nilai kritis (r tabel) untuk jumlah responden dan taraf signifikansi tertentu. Untuk 30 responden (db = 28) dan taraf 5% dua sisi, nilai kritisnya sekitar 0,361.
Sebaiknya gunakan korelasi butir terhadap skor total tanpa butir itu sendiri (corrected item-total correlation), karena butir yang ikut dalam skor total membuat korelasi tampak lebih tinggi.
9.4 Reliabilitas: koefisien alfa Cronbach
Untuk instrumen dengan banyak butir (misalnya skala Likert), reliabilitas konsistensi internal umumnya dihitung dengan alfa Cronbach (Cronbach, 1951):
α = [k / (k − 1)] × [1 − (Σ varians butir / varians skor total)]
k = jumlah butir
Contoh perhitungan (data ilustratif kecil). Enam responden menjawab empat butir dengan skala 1 sampai 5.
Responden Butir 1 Butir 2 Butir 3 Butir 4 Skor total R1 4 5 4 5 18 R2 3 3 4 3 13 R3 5 5 5 4 19 R4 2 3 2 3 10 R5 4 4 5 4 17 R6 3 2 3 3 11
- Varians butir: 1,10; 1,47; 1,37; 0,67. Jumlahnya 4,60.
- Varians skor total: 14,67.
- α = (4 / 3) × (1 − 4,60 / 14,67) = 1,333 × 0,686 = 0,92.
Angka ini hanya untuk latihan. Dengan hanya enam responden, hasilnya tidak dapat dipercaya. Pada penelitian nyata gunakan jumlah uji coba yang memadai.
Interpretasi. Nunnally (1978) menyarankan nilai 0,70 sebagai batas yang lazim untuk penelitian tahap awal, dan nilai lebih tinggi untuk keputusan yang berdampak besar. Sebagian buku di Indonesia memakai 0,60 sebagai batas minimum. Ikuti pedoman kampus Anda, tetapi pahami alasannya.
Hati-hati. Alfa yang tinggi tidak membuktikan validitas. Alfa juga cenderung naik seiring bertambahnya jumlah butir, dan mengandaikan butir-butirnya mengukur satu konsep yang sama. Untuk tes dengan butir dikotomi (benar atau salah), rumus yang lazim adalah KR-20 dari Kuder dan Richardson (1937).
9.5 Mengadaptasi instrumen yang sudah ada
Menggunakan instrumen baku atau instrumen peneliti lain boleh dilakukan, dengan syarat:
- Cantumkan sumber aslinya dengan sitasi yang benar dan minta izin bila diperlukan.
- Terjemahkan dengan cermat. Bila instrumen berbahasa asing, prosedur terjemahan balik (back-translation) membantu memastikan makna tetap sama (Brislin, 1970).
- Sesuaikan konteks (bahasa, jenjang, budaya) dan minta penilaian ahli.
- Uji ulang validitas dan reliabilitasnya pada responden Anda. Instrumen yang valid di satu konteks tidak otomatis valid di konteks lain.
10. Keabsahan Data Kualitatif dan Etika Pengumpulan Data
10.1 Keabsahan data kualitatif
Penelitian kualitatif tidak memakai uji korelasi atau alfa. Kepercayaan terhadap temuan dijaga melalui kriteria Lincoln dan Guba (1985): kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Beberapa cara yang dapat Anda lakukan:
| Cara | Penjelasan |
|---|---|
| Triangulasi sumber | Membandingkan data dari beberapa informan |
| Triangulasi teknik | Membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi |
| Pengecekan anggota (member checking) | Meminta informan mengonfirmasi ringkasan atau tafsiran Anda |
| Ketekunan pengamatan | Mengamati cukup lama dan cermat agar temuan tidak dangkal |
| Jejak audit | Menyimpan catatan proses sehingga orang lain dapat menelusuri keputusan peneliti |
| Uraian yang kaya konteks | Membantu pembaca menilai transferabilitas |
10.2 Etika pengumpulan data
Sebagaimana dibahas di Part 1, penelitian yang melibatkan manusia menuntut persetujuan yang diinformasikan. Pada tahap pengumpulan data, pastikan:
- partisipan (atau orang tua/wali untuk anak) memahami tujuan dan bersedia secara sukarela;
- izin dari sekolah atau instansi telah diperoleh;
- identitas dilindungi, misalnya memakai kode atau inisial;
- rekaman dan data disimpan dengan aman;
- partisipan boleh berhenti kapan saja tanpa konsekuensi.
11. Empat Kasus: Dari Penelitian ke Instrumen
| Penelitian (ilustratif) | Teknik | Instrumen | Bukti kualitas |
|---|---|---|---|
| Tingkat Motivasi Belajar PAI Siswa Kelas V (kuantitatif deskriptif) | Angket | Angket skala Likert 15 butir | Validasi ahli, uji coba, alfa Cronbach |
| Pengaruh Metode Demonstrasi terhadap Kemampuan Praktik Salat (kuasi-eksperimen) | Tes praktik pretest dan posttest | Rubrik penilaian praktik | Validasi ahli terhadap rubrik, kesesuaian antarpenilai |
| Penerapan Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Praktik Salat (kualitatif) | Wawancara, observasi, dokumentasi | Pedoman wawancara, lembar observasi, lembar telaah dokumen | Triangulasi, pengecekan anggota, jejak audit |
| Evaluasi Program Tahfiz dengan Model CIPP | Angket, wawancara, observasi, dokumentasi | Angket per komponen, pedoman wawancara, lembar observasi | Validasi ahli, triangulasi antarsumber |
12. Menulis Bagian Instrumen di Bab III
Kuantitatif
“Instrumen yang digunakan adalah angket motivasi belajar PAI yang disusun berdasarkan lima indikator, yaitu … (dirujuk dari … [teori pada Bab II]). Angket terdiri atas 15 butir dengan skala Likert lima pilihan. Sebelum digunakan, instrumen divalidasi oleh tiga ahli (validitas isi) dengan koefisien Aiken, kemudian diuji coba pada 30 siswa di luar sampel penelitian. Validitas butir diuji dengan korelasi Pearson terhadap skor total, dan reliabilitas dengan koefisien alfa Cronbach. Kisi-kisi dan hasil uji disajikan pada lampiran.”
Kualitatif
“Peneliti merupakan instrumen kunci. Data dikumpulkan melalui wawancara semiterstruktur, observasi, dan dokumentasi dengan bantuan pedoman wawancara, lembar observasi, dan lembar telaah dokumen. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik, pengecekan anggota, dan pencatatan jejak audit.”
Tempatkan kisi-kisi, instrumen lengkap, dan hasil uji pada lampiran, dan rujuk dari teks.
13. Sepuluh Kesalahan yang Paling Sering Terjadi
- Instrumen tidak diturunkan dari indikator, atau indikatornya tidak berasal dari teori.
- Butir ganda (dua gagasan dalam satu pernyataan).
- Butir mengarahkan jawaban atau memakai negasi ganda.
- Bahasa tidak sesuai dengan responden, misalnya istilah sulit untuk siswa SD.
- Tidak ada uji coba, atau uji coba dilakukan pada sampel penelitian itu sendiri.
- Menganggap alfa tinggi sebagai bukti validitas.
- Lupa membalik skor butir unfavorable.
- Memakai uji validitas korelasi pada penelitian kualitatif, alih-alih keabsahan data.
- Observasi tanpa indikator, sehingga catatan tidak dapat dianalisis.
- Wawancara terlalu tertutup atau mengarahkan, sehingga informan hanya mengiyakan.
14. Latihan
Soal 1. Perbaiki tiga butir angket berikut: (a) “Guru saya menyenangkan dan pintar menjelaskan.” (b) “Bukankah belajar dengan gawai sangat tidak bermanfaat?” (c) “Saya selalu mengerjakan PR.”
Soal 2. Pada uji coba 30 siswa, kelompok atas 8 siswa dan kelompok bawah 8 siswa. Pada satu butir, 6 siswa kelompok atas dan 2 siswa kelompok bawah menjawab benar. Hitung tingkat kesukaran dan daya pembeda, lalu tentukan kategorinya.
Soal 3. Tentukan teknik pengumpulan data yang paling sesuai: (a) tingkat kedisiplinan ibadah siswa; (b) pengalaman guru menghadapi pembelajaran era digital; (c) keterlaksanaan program tahfiz di madrasah; (d) peningkatan kemampuan praktik setelah perlakuan.
Jawaban.
- (a) Butir ganda, jadi pisahkan: “Guru saya menyenangkan.” dan “Guru saya pintar menjelaskan.” (b) Butir mengarahkan dan memuat penilaian, jadi ganti: “Saya belajar dengan gawai untuk mengerjakan tugas sekolah.” atau butir netral lain sesuai indikator. (c) Kata mutlak “selalu”, jadi ubah menjadi skala frekuensi atau kalimat yang tidak mutlak, misalnya “Saya mengerjakan PR sebelum bermain.”
- P = (6 + 2) / 16 = 0,50, termasuk sedang. D = (6 − 2) / 8 = 0,50, termasuk baik. Butir layak dipertahankan.
- (a) Angket. (b) Wawancara mendalam. (c) Kombinasi observasi, wawancara, dan dokumentasi (triangulasi), atau ditambah angket untuk komponen tertentu. (d) Tes praktik dengan rubrik, pada pretest dan posttest.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Bolehkah memakai angket dari skripsi atau jurnal lain? Boleh, dengan syarat mencantumkan sumbernya, menyesuaikannya dengan konteks Anda, meminta penilaian ahli, dan mengujinya kembali pada responden Anda.
Apakah instrumen baku tetap perlu diuji? Ya, setidaknya reliabilitasnya pada responden Anda, karena kondisi responden dan konteks dapat berbeda dari penelitian aslinya.
Berapa jumlah butir yang ideal? Tidak ada angka baku. Jumlah butir bergantung pada jumlah indikator, dan setiap indikator perlu terwakili secara memadai. Hindari angket yang terlalu panjang, terutama untuk anak.
Apakah penelitian kualitatif perlu uji validitas dan reliabilitas? Tidak dalam bentuk uji statistik. Gantinya adalah keabsahan data melalui triangulasi, pengecekan anggota, dan kriteria kepercayaan Lincoln dan Guba.
Rangkuman
- Data, teknik, dan instrumen adalah tiga hal berbeda. Pertanyaan penelitian menentukan data, data menentukan teknik, dan teknik menentukan instrumen.
- Instrumen harus diturunkan berjenjang: teori, definisi operasional, indikator, kisi-kisi, lalu butir.
- Angket cocok untuk mengukur sikap dan persepsi, tes dan rubrik untuk kemampuan, observasi untuk perilaku dan proses, wawancara untuk makna dan pengalaman, dan dokumentasi untuk bukti tertulis.
- Kualitas instrumen kuantitatif diuji melalui validitas (penilaian ahli dan korelasi butir-total) dan reliabilitas (misalnya alfa Cronbach). Alfa yang tinggi tidak membuktikan validitas.
- Pada penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci, dan keabsahan data dijaga dengan triangulasi, pengecekan anggota, dan jejak audit.
- Kumpulkan data dengan etika: persetujuan, izin, kerahasiaan, dan perlindungan partisipan, terutama anak.
Pertanyaan Refleksi
- Untuk variabel dalam penelitian Anda, apa definisi operasionalnya, dan indikator apa yang diturunkan dari teori Anda?
- Apakah setiap butir dalam instrumen Anda dapat ditelusuri ke satu indikator?
- Bagaimana Anda akan membuktikan bahwa instrumen Anda valid dan reliabel, atau bahwa data kualitatif Anda dapat dipercaya?
- Apa langkah etis yang perlu disiapkan sebelum Anda mengumpulkan data dari responden?
Artikel Lanjutan
Bagian berikutnya membahas analisis data: bagaimana data kuantitatif dan kualitatif dianalisis agar menjawab rumusan masalah.
Bagian sebelumnya dalam seri ini: Part 1: Apa Itu Metodologi Penelitian?, Part 2: Jenis-Jenis Penelitian dan Cara Menentukannya, dan Part 3: Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling. Untuk pencarian sumber rujukan, lihat juga Cara Mencari Jurnal Referensi untuk Skripsi.
Daftar Pustaka
Aiken, L. R. (1985). Three coefficients for analyzing the reliability and validity of ratings. Educational and Psychological Measurement, 45(1), 131–142.
Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (Eds.). (2001). A taxonomy for learning, teaching, and assessing: A revision of Bloom’s taxonomy of educational objectives. New York: Longman.
Arikunto, S. (2013). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik (Edisi revisi). Jakarta: Rineka Cipta.
Brislin, R. W. (1970). Back-translation for cross-cultural research. Journal of Cross-Cultural Psychology, 1(3), 185–216.
Brookhart, S. M. (2013). How to create and use rubrics for formative assessment and grading. Alexandria, VA: ASCD.
Cohen, J. (1960). A coefficient of agreement for nominal scales. Educational and Psychological Measurement, 20(1), 37–46.
Cronbach, L. J. (1951). Coefficient alpha and the internal structure of tests. Psychometrika, 16(3), 297–334.
Kuder, G. F., & Richardson, M. W. (1937). The theory of the estimation of test reliability. Psychometrika, 2(3), 151–160.
Kvale, S., & Brinkmann, S. (2015). InterViews: Learning the craft of qualitative research interviewing (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Lawshe, C. H. (1975). A quantitative approach to content validity. Personnel Psychology, 28(4), 563–575.
Likert, R. (1932). A technique for the measurement of attitudes. Archives of Psychology, 22(140), 1–55.
Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. Beverly Hills, CA: SAGE Publications.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Norman, G. (2010). Likert scales, levels of measurement and the “laws” of statistics. Advances in Health Sciences Education, 15(5), 625–632.
Nunnally, J. C. (1978). Psychometric theory (2nd ed.). New York: McGraw-Hill.
Patton, M. Q. (2015). Qualitative research and evaluation methods (4th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Podsakoff, P. M., MacKenzie, S. B., Lee, J.-Y., & Podsakoff, N. P. (2003). Common method biases in behavioral research: A critical review of the literature and recommended remedies. Journal of Applied Psychology, 88(5), 879–903.
Spradley, J. P. (1980). Participant observation. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Stevens, S. S. (1946). On the theory of scales of measurement. Science, 103(2684), 677–680.
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Yin, R. K. (2018). Case study research and applications: Design and methods (6th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.