BlogBelajar Metodologi PenelitianApa Itu Metodologi Penelitian? Pengertian, Ciri, dan Peranannya dalam Karya Ilmiah
Belajar Metodologi Penelitian — Part 1

Apa Itu Metodologi Penelitian? Pengertian, Ciri, dan Peranannya dalam Karya Ilmiah

Memahami pengertian penelitian, perbedaan metode dan metodologi, ciri penelitian ilmiah, paradigma, etika, serta peran metodologi dalam skripsi, dengan contoh kasus.

Rizky Rinaldi

Pendahuluan

Di ruang bimbingan skripsi, satu kalimat hampir selalu terdengar: “Pak, saya sudah punya judul, tinggal cari metodenya.”

Kalimat itu terdengar sepele, tetapi memperlihatkan salah paham yang mendasar. Metodologi dianggap sebagai perkakas yang tinggal dipasang setelah judul jadi. Padahal metodologi adalah kerangka berpikir yang menentukan apakah sebuah penelitian dapat dipercaya atau tidak. Judul yang menarik tidak akan menolong jika cara menjawabnya tidak sistematis.

Artikel ini adalah bagian pertama dari seri Belajar Metodologi Penelitian. Tujuannya membangun fondasi: apa itu penelitian, apa bedanya metode dan metodologi, apa yang membuat sebuah penelitian disebut ilmiah, mengapa metodologi penting, dan di mana posisinya dalam skripsi. Semua bagian dilengkapi contoh kasus supaya mudah dipahami.

Catatan tentang contoh. Nama sekolah dan data pada contoh di artikel ini bersifat ilustrasi untuk keperluan pembelajaran, bukan hasil penelitian yang sebenarnya.

Setelah membaca artikel ini, Anda diharapkan mampu:

  • menjelaskan pengertian penelitian dan membedakannya dari sekadar mencari informasi;
  • membedakan metodologi, metode, dan teknik penelitian;
  • menyebutkan ciri-ciri penelitian ilmiah beserta contohnya;
  • menjelaskan tujuan dan kegunaan penelitian;
  • memahami peran paradigma dan etika dalam penelitian;
  • memetakan komponen metodologi ke dalam struktur skripsi.

1. Apa Itu Penelitian?

1.1 Definisi

Creswell (2012) mendefinisikan penelitian sebagai proses langkah-langkah yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi guna meningkatkan pemahaman kita tentang suatu topik atau isu. Prosesnya terdiri atas tiga langkah utama: mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data untuk menjawab pertanyaan itu, dan menyajikan jawabannya.

Kerlinger dan Lee (2000) memberi definisi yang lebih ketat untuk penelitian ilmiah, yaitu penyelidikan yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis terhadap fenomena, dipandu oleh teori dan hipotesis tentang hubungan yang diduga di antara fenomena tersebut. Definisi ini sangat kuat untuk penelitian kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif, hipotesis yang diuji di awal tidak selalu ada, tetapi sifat sistematis, empiris, dan kritisnya tetap berlaku.

Di Indonesia, Sugiyono (2019) merumuskan metode penelitian sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Rumusan ini memuat empat kata kunci yang layak diingat: cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan.

1.2 Penelitian berbeda dari sekadar mencari informasi

Banyak mahasiswa menyamakan penelitian dengan mengumpulkan bahan bacaan. Keduanya berbeda.

Aspek Mencari informasi Penelitian
Titik awal Rasa ingin tahu umum Pertanyaan atau masalah yang dirumuskan secara jelas
Cara Membaca, menelusuri, menyalin Prosedur yang terencana dan dapat dipertanggungjawabkan
Sumber Apa saja yang ditemukan Data yang dikumpulkan dengan instrumen dan teknik yang sesuai
Hasil Ringkasan informasi Jawaban atas pertanyaan penelitian yang didukung bukti
Dapat diperiksa orang lain? Tidak selalu Ya, karena prosedurnya dijelaskan

Contoh Kasus. Seorang mahasiswa PGMI ingin tahu tentang motivasi belajar siswa SD.

Mencari informasi: ia membaca lima artikel dan buku tentang motivasi, lalu merangkumnya.

Penelitian: ia merumuskan pertanyaan, misalnya “Seberapa tinggi motivasi belajar PAI siswa kelas V di sekolah X?”. Ia menyusun angket berdasarkan indikator, membagikannya kepada siswa, menganalisis skornya, lalu menarik kesimpulan yang sesuai dengan data.

Kegiatan pertama memperkaya pengetahuan peneliti. Kegiatan kedua menghasilkan pengetahuan baru yang dapat diperiksa dan diuji orang lain.


2. Metodologi, Metode, dan Teknik: Apa Bedanya?

Tiga istilah ini sering tertukar, bahkan dalam judul mata kuliah dan bab skripsi.

Kothari (2004) menjelaskan bahwa metode penelitian mencakup semua teknik yang dipakai untuk melaksanakan penelitian, seperti teknik pengumpulan data dan teknik analisis statistik. Metodologi penelitian, sebaliknya, adalah cara untuk memecahkan masalah penelitian secara sistematis. Metodologi dapat dipahami sebagai ilmu tentang bagaimana penelitian dilakukan secara ilmiah. Cakupannya mencakup alasan di balik pilihan metode, dan tidak berhenti pada metodenya saja.

Creswell dan Creswell (2018) merinci keputusan penelitian ke dalam beberapa tingkat yang saling berkaitan. Dengan menyederhanakannya, kita memperoleh tiga tingkat yang mudah diingat:

Tingkat Pertanyaan yang dijawab Contoh
Metodologi (kerangka berpikir) Mengapa penelitian ini dirancang dengan cara tertentu? “Masalah ini menuntut pengukuran, maka dipilih pendekatan kuantitatif.”
Metode/desain (rancangan) Rancangan apa yang dipakai untuk menjawab pertanyaan? Kuasi-eksperimen, studi kasus, korelasional
Teknik/instrumen (alat dan cara) Bagaimana data dikumpulkan dan dianalisis? Angket, tes, wawancara, observasi, uji-t, analisis tematik

Dengan pembagian ini, “angket” dan “wawancara” jelas bukan jenis penelitian. Keduanya adalah teknik pengumpulan data.

Catatan bahasa. Bab III skripsi umumnya berjudul “Metode Penelitian”, sedangkan mata kuliahnya disebut “Metodologi Penelitian”. Dalam praktiknya, Bab III memang menuangkan hasil penerapan metodologi, yaitu keputusan-keputusan yang diambil peneliti beserta alasannya.

Contoh Kasus. Seorang guru PAI mendapati bahwa hasil belajar siswa kelas V pada materi salat masih rendah.

  • Metodologi: guru memutuskan untuk memperbaiki praktik mengajarnya sendiri secara bertahap dan menilai hasilnya. Alasannya, tujuannya adalah perbaikan pembelajaran di kelasnya, bukan generalisasi ke sekolah lain.
  • Metode/desain: Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus.
  • Teknik/instrumen: lembar observasi, rubrik praktik salat, dan catatan refleksi.

Ketiganya konsisten. Jika guru menulis “metode penelitian saya adalah angket” tanpa penjelasan tentang tujuan dan desainnya, tiga tingkat tadi tercampur.


3. Ciri-Ciri Penelitian Ilmiah

Sugiyono (2019) menyebut bahwa cara ilmiah bertumpu pada ciri keilmuan yang rasional, empiris, dan sistematis. Kerlinger dan Lee (2000) menambahkan bahwa penelitian ilmiah bersifat terkontrol dan kritis. Berikut penjabarannya.

Ciri Arti Contoh penerapan
Rasional Dilakukan dengan penalaran yang masuk akal dan dapat dijelaskan Alasan memilih variabel didasarkan pada teori, bukan firasat
Empiris Berbasis pengamatan dan data yang dapat diperiksa indra atau alat ukur Hasil belajar diukur dengan tes, bukan dinilai dari kesan
Sistematis Mengikuti langkah yang berurutan dan logis Masalah, tujuan, metode, data, analisis, kesimpulan
Terkontrol Peneliti mengendalikan atau memperhitungkan faktor lain yang dapat memengaruhi hasil Kelompok kontrol pada eksperimen; triangulasi pada kualitatif
Kritis Temuan diuji, dipertanyakan, dan dibandingkan dengan penjelasan lain Membahas kemungkinan penyebab lain dan keterbatasan penelitian

Contoh kasus: pendapat versus penelitian

Contoh Kasus. Seorang guru berkata, “Media video pasti meningkatkan hasil belajar karena siswa terlihat senang.”

Kalimat itu adalah opini yang masuk akal, tetapi belum penelitian. Beberapa hal belum jelas: Apa yang dimaksud hasil belajar? Bagaimana mengukurnya? Dibandingkan dengan apa? Apakah peningkatannya benar disebabkan oleh video?

Versi ilmiahnya: guru merumuskan pertanyaan penelitian, menetapkan ukuran hasil belajar (tes atau rubrik), membandingkan kelompok yang memakai video dengan yang tidak (atau membandingkan kondisi sebelum dan sesudah), lalu menganalisis datanya. Kesimpulan yang ditarik hanya sejauh data mendukung.

Prinsip yang perlu ditanamkan: kesimpulan tidak boleh melampaui data. Jika data hanya berasal dari satu kelas, kesimpulan tidak boleh berbunyi “metode ini efektif untuk semua sekolah”.


4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

4.1 Tujuan umum

Sugiyono (2019) mengelompokkan tujuan umum penelitian menjadi tiga: penemuan (data yang sebelumnya belum diketahui), pembuktian (menguji kebenaran informasi atau pengetahuan yang sudah ada), dan pengembangan (memperdalam atau memperluas pengetahuan yang sudah ada). Adapun kegunaannya adalah untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah.

Dari sudut pandang penelitian sosial, Babbie (2016) membedakan tiga tujuan yang sering muncul: eksplorasi (menjajaki fenomena yang belum banyak dikenal), deskripsi (menggambarkan apa yang terjadi), dan eksplanasi (menjelaskan mengapa atau bagaimana hal itu terjadi).

4.2 Contoh kasus: satu topik, tiga tujuan

Contoh Kasus. Topik: penggunaan gawai oleh siswa sekolah dasar.

Tujuan Contoh pertanyaan
Eksplorasi Bagaimana siswa kelas V menggunakan gawai di rumah, dan apa yang mereka lakukan dengannya?
Deskripsi Berapa jam per hari rata-rata siswa kelas V menggunakan gawai?
Eksplanasi Apakah intensitas penggunaan gawai berhubungan dengan hasil belajar PAI?

Ketiganya menggunakan topik yang sama, tetapi menuntut rancangan, data, dan analisis yang berbeda. Inilah alasan mengapa tujuan harus ditetapkan sebelum metode dipilih.


5. Mengapa Metodologi Penelitian Itu Penting?

1. Menjaga validitas. Validitas berkaitan dengan apakah penelitian benar-benar mengukur atau menjawab apa yang seharusnya. Tanpa desain yang tepat, kesimpulan bisa meleset dari pertanyaan yang diajukan (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012).

2. Menjaga reliabilitas dan keterpercayaan. Pada penelitian kuantitatif, ini berupa reliabilitas instrumen, yakni konsistensi hasil ukur. Pada penelitian kualitatif, mutu dijaga melalui kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas (Lincoln & Guba, 1985).

3. Meminimalkan bias. Prosedur yang jelas membatasi pengaruh keyakinan pribadi peneliti terhadap hasil.

4. Memberi arah yang sistematis. Peneliti tahu apa yang dikerjakan lebih dulu, apa yang datang kemudian, dan mengapa.

5. Memungkinkan pemeriksaan dan replikasi. Karena prosedurnya dijelaskan, orang lain dapat menilai atau mengulang penelitian tersebut.

6. Menghemat waktu dan sumber daya. Peneliti tidak mengumpulkan data yang tidak dibutuhkan.

Contoh Kasus. Dua mahasiswa sama-sama meneliti “pengaruh media interaktif terhadap hasil belajar PAI”.

Mahasiswa A menetapkan populasi, memilih desain kuasi-eksperimen dengan kelompok kontrol, memvalidasi instrumen, dan memilih uji statistik sesuai jenis data. Pembaca dapat menilai setiap keputusannya.

Mahasiswa B membagikan angket “menurut Anda, apakah media interaktif membantu belajar?” kepada siswa, lalu menyimpulkan bahwa media interaktif berpengaruh terhadap hasil belajar. Kesimpulan B tidak didukung datanya: angketnya mengukur persepsi, sedangkan kesimpulannya tentang hasil belajar.

Topiknya sama. Yang membedakan mutu keduanya adalah metodologi.


6. Paradigma: Cara Memandang Realitas dan Pengetahuan

Di balik setiap penelitian ada cara pandang tertentu tentang apa itu kenyataan dan bagaimana pengetahuan diperoleh. Cara pandang ini disebut paradigma atau worldview. Guba dan Lincoln (1994) membedakan beberapa paradigma utama, dan Creswell dan Creswell (2018) meringkasnya menjadi empat pandangan yang banyak dipakai: postpositivisme, konstruktivisme, transformatif, dan pragmatisme.

Paradigma Gagasan pokok Kecenderungan pendekatan
Postpositivisme Realitas dapat diamati dan diukur, meskipun pengetahuan tentangnya tidak pernah sempurna Kuantitatif
Konstruktivisme Makna dibentuk oleh individu dan konteks sosialnya Kualitatif
Transformatif Penelitian bertujuan mengubah kondisi ketidakadilan atau memberdayakan kelompok Kualitatif atau gabungan, dengan orientasi aksi
Pragmatisme Pilihan metode ditentukan oleh apa yang paling efektif menjawab masalah Mixed methods

Contoh Kasus. Topik yang sama, motivasi belajar PAI, dapat didekati dengan dua cara pandang.

  • Postpositivis: motivasi dianggap dapat diukur dari indikator tertentu. Peneliti menyusun angket dan menganalisis skornya secara statistik.
  • Konstruktivis: motivasi dianggap dibentuk oleh pengalaman dan konteks masing-masing siswa. Peneliti mewawancarai siswa untuk memahami apa yang membuat mereka bersemangat atau enggan belajar.

Keduanya sah. Perbedaannya terletak pada pertanyaan yang diajukan, bukan pada benar atau salahnya paradigma.

Mahasiswa S1 tidak perlu berdebat filsafat, tetapi perlu memahami bahwa pilihan pendekatan membawa konsekuensi logis pada seluruh bagian penelitian.


7. Posisi Metodologi dalam Struktur Skripsi

Metodologi tidak hanya berada di Bab III. Ia tersebar di seluruh bagian dan menjadi benang merah yang menghubungkannya. Struktur bab dapat berbeda antarkampus, jadi ikuti pedoman penulisan di kampus masing-masing. Pola umum di jenjang S1 kependidikan kurang lebih sebagai berikut.

Bagian Keterkaitan dengan metodologi
Bab I. Pendahuluan Latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan batasan penelitian. Bagian ini menentukan jenis penelitian yang layak dipilih.
Bab II. Kajian Teori Landasan konsep dan penelitian terdahulu yang mendasari variabel atau fokus penelitian.
Bab III. Metode Penelitian Jenis dan desain penelitian, lokasi dan waktu, populasi dan sampel (atau subjek dan informan), teknik pengumpulan data, instrumen, uji instrumen atau keabsahan data, dan teknik analisis data.
Bab IV. Hasil dan Pembahasan Data dianalisis sesuai rancangan di Bab III dan dijawabkan pada rumusan masalah.
Bab V. Penutup Kesimpulan yang menjawab rumusan masalah dan saran.

Konsistensi antarbab ini merupakan ukuran mutu metodologis yang utama. Bagian berikutnya dari seri ini membahas cara memeriksanya secara rinci.


8. Etika Penelitian

Penelitian yang baik bukan hanya benar secara metodologis, tetapi juga bertanggung jawab secara etis. Laporan Belmont (National Commission for the Protection of Human Subjects, 1979) merumuskan tiga prinsip dasar penelitian yang melibatkan manusia:

  1. Penghormatan terhadap manusia (respect for persons): partisipan diperlakukan sebagai pribadi yang otonom, dan mereka yang otonominya terbatas, seperti anak-anak, mendapat perlindungan tambahan. Prinsip ini diwujudkan melalui persetujuan yang diinformasikan (informed consent).
  2. Berbuat baik (beneficence): risiko bagi partisipan diminimalkan dan manfaat diperbesar.
  3. Keadilan (justice): beban dan manfaat penelitian dibagi secara adil.

Cohen, Manion, dan Morrison (2018) menegaskan bahwa penelitian pendidikan menuntut kepekaan etis yang tinggi, antara lain terkait persetujuan, kerahasiaan, dan perlindungan partisipan yang rentan.

Contoh Kasus. Seorang mahasiswa akan meneliti siswa kelas V SD. Langkah etis yang perlu ia lakukan:

  • meminta izin resmi kepada kepala sekolah dan guru kelas;
  • menjelaskan tujuan penelitian dan meminta persetujuan orang tua atau wali, serta persetujuan siswa sesuai kemampuannya;
  • menjaga kerahasiaan identitas siswa, misalnya memakai kode atau inisial pada laporan;
  • tidak menampilkan foto wajah siswa tanpa izin;
  • menyampaikan data apa adanya, tanpa mengubah hasil agar sesuai harapan.

Kejujuran ilmiah berlaku pula pada penulisan: mengutip sumber dengan benar dan tidak melakukan plagiarisme adalah bagian dari etika penelitian.


9. Contoh Kerja: Dari Fenomena ke Rancangan Metodologis

Mari kita pakai satu fenomena untuk melihat bagaimana metodologi bekerja dari awal hingga akhir.

Fenomena (ilustrasi). Guru PAI di SD Negeri 21 Medan mengamati bahwa kemampuan praktik salat siswa kelas V masih beragam.

Langkah 1: rumuskan masalah. Fenomena belum otomatis menjadi masalah penelitian. Peneliti perlu mempersempitnya menjadi hal yang jelas dan dapat dijawab. Misalnya: sebagian siswa belum menguasai urutan gerakan salat dengan benar, sedangkan guru belum memiliki cara yang terbukti membantu.

Langkah 2: ajukan pertanyaan penelitian. Dari masalah yang sama, pertanyaan dapat bermacam-macam.

Langkah 3: pilih desain sesuai pertanyaan.

Pertanyaan penelitian Jenis penelitian Data Analisis
Seberapa tinggi kemampuan praktik salat siswa kelas V? Kuantitatif deskriptif Skor rubrik praktik Statistik deskriptif
Apakah metode demonstrasi meningkatkan kemampuan praktik salat dibandingkan metode ceramah? Kuasi-eksperimen Skor pretest dan posttest Uji beda (misalnya uji-t)
Bagaimana guru menerapkan metode demonstrasi dalam pembelajaran salat? Kualitatif deskriptif Wawancara, observasi, dokumentasi Analisis tematik
Bagaimana meningkatkan kemampuan praktik salat siswa melalui tindakan di kelas? PTK Observasi, skor praktik tiap siklus, refleksi Analisis deskriptif per siklus

Langkah 4: pastikan konsistensi. Judul, rumusan masalah, tujuan, metode, data, dan analisis harus saling menjawab. Jika pertanyaannya “apakah metode demonstrasi meningkatkan kemampuan?”, data wawancara saja tidak cukup untuk menjawabnya.

Pembahasan lengkap tentang setiap jenis penelitian ini ada di Part 2: Jenis-Jenis Penelitian dan Cara Menentukannya.


10. Lima Salah Kaprah tentang Metodologi

1. “Metodologi itu sama dengan angket atau wawancara.” Angket dan wawancara adalah teknik. Metodologi mencakup logika pemilihan seluruh rancangan.

2. “Judul dulu, metode belakangan.” Urutan yang benar: masalah, pertanyaan, tujuan, baru pendekatan dan desain.

3. “Kualitatif lebih mudah karena tanpa statistik.” Penelitian kualitatif menuntut disiplin dalam pengumpulan data, analisis, dan penjagaan keabsahan data. Tingkat kesulitannya berbeda, bukan lebih ringan.

4. “Kuantitatif otomatis lebih ilmiah.” Keilmiahan ditentukan oleh kesesuaian antara pertanyaan, desain, dan data. Pendekatan mana pun bisa ilmiah atau tidak ilmiah, tergantung cara pengerjaannya.

5. “Kesimpulan harus sesuai harapan.” Kesimpulan harus sesuai data. Hasil yang tidak sesuai dugaan tetap merupakan temuan yang sah dan dapat dibahas.


11. Latihan Singkat

Tentukan apakah pernyataan berikut termasuk metodologi (alasan dan kerangka berpikir), metode/desain (rancangan), atau teknik/instrumen (alat dan cara).

  1. “Penelitian ini memakai kuasi-eksperimen dengan kelompok kontrol.”
  2. “Data dikumpulkan dengan angket skala Likert lima pilihan.”
  3. “Karena penelitian ingin memahami pengalaman guru secara mendalam, dipilih pendekatan kualitatif.”
  4. “Data dianalisis dengan uji-t sampel independen.”
  5. “Penelitian ini berbentuk studi kasus di satu sekolah.”

Jawaban: (1) metode/desain; (2) teknik/instrumen; (3) metodologi; (4) teknik analisis, yang termasuk tingkat teknik; (5) metode/desain.


Rangkuman

  • Penelitian adalah proses sistematis untuk menjawab pertanyaan dengan data. Penelitian tidak sama dengan mengumpulkan bacaan.
  • Metodologi adalah kerangka berpikir dan alasan di balik pilihan rancangan. Metode/desain adalah rancangannya. Teknik/instrumen adalah alat dan caranya.
  • Penelitian ilmiah bersifat rasional, empiris, sistematis, terkontrol, dan kritis, dan kesimpulannya tidak boleh melampaui data.
  • Tujuan penelitian dapat berupa eksplorasi, deskripsi, atau eksplanasi, dan tujuan ini menentukan rancangan yang dipilih.
  • Paradigma memengaruhi cara peneliti memandang masalah, sedangkan etika memastikan penelitian dilakukan secara bertanggung jawab.
  • Metodologi mengikat seluruh bab skripsi. Ukuran mutunya adalah konsistensi antara judul, rumusan masalah, tujuan, metode, data, analisis, dan kesimpulan.

Pertanyaan Refleksi

  1. Ambil satu judul skripsi (milik Anda atau mahasiswa bimbingan). Apakah judul itu sudah lahir dari pertanyaan penelitian yang jelas?
  2. Pikirkan satu pendapat yang sering Anda dengar di kelas atau sekolah. Bagaimana pendapat itu dapat diubah menjadi pertanyaan penelitian yang dapat dijawab dengan data?
  3. Dalam rancangan penelitian Anda, mana yang termasuk metodologi, mana yang metode, dan mana yang teknik?
  4. Apa langkah etis yang perlu disiapkan sebelum mengumpulkan data dari siswa?

Artikel Lanjutan

Bagian berikutnya dalam seri ini adalah Jenis-Jenis Penelitian dan Cara Menentukannya dari Pertanyaan Penelitian, yang membahas pendekatan kuantitatif, kualitatif, mixed methods, PTK, R&D, dan evaluasi program lengkap dengan contoh kasus.


Daftar Pustaka

Babbie, E. (2016). The practice of social research (14th ed.). Boston: Cengage Learning.

Cohen, L., Manion, L., & Morrison, K. (2018). Research methods in education (8th ed.). London: Routledge.

Creswell, J. W. (2012). Educational research: Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research (4th ed.). Boston: Pearson.

Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2012). How to design and evaluate research in education (8th ed.). New York: McGraw-Hill.

Guba, E. G., & Lincoln, Y. S. (1994). Competing paradigms in qualitative research. Dalam N. K. Denzin & Y. S. Lincoln (Eds.), Handbook of qualitative research (hlm. 105–117). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Kerlinger, F. N., & Lee, H. B. (2000). Foundations of behavioral research (4th ed.). Fort Worth, TX: Harcourt College Publishers.

Kothari, C. R. (2004). Research methodology: Methods and techniques (2nd ed.). New Delhi: New Age International Publishers.

Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. Beverly Hills, CA: SAGE Publications.

National Commission for the Protection of Human Subjects of Biomedical and Behavioral Research. (1979). The Belmont report: Ethical principles and guidelines for the protection of human subjects of research. Washington, DC: U.S. Department of Health, Education, and Welfare.

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.